Dua Bulan, 19 Kasus DBD Terjadi di Rohul

Sekretaris Dinkes drg Septin Asmarwiati MKes

Rohul(SegmenNews.com)- Hujan yang tidak menentu di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), berpengaruh terhadap serangan wabah DBD (Demam Berdarah Dengue). Hanya dua bulan 19 kasus DBD sudah terjadi.

Kepala Dinkes Rohul dr Bambang Triono, melalui Sekretaris Dinkes drg Septin Asmarwiati MKes, Jumat (9/11/2018) mengungkapkan, dari data diterima, pada bulan September 2018 terjadi 10 kasus DBD dan Oktober sebanyak 9 kasus.

“Ada 19 kasus DBD, diantaranya 3 kasus di Kecamatan Tambusai, Ujung Batu 3 kasus, Rambah 1 kasus dan Tandun 3 kasus.

Untuk mengantisipasi berkembangnya wabah DBD, ia menghibau agar masyarakat di 16 kecamatan proaktif melakukan pencegahan dengan membersihkan lingkungan dan sarang nyamuk.

Kemudian,  tidak membiarkan air hujan tertampung dan tergenang di satu tempat seperti kaleng, botol dan ban  bekas, ember dan lainnya, yang dapat jadi tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypty.

‘’Kita menghimbau seluruh masyarakat di 16 kecamatan se-Rohul, agar waspada terhadap penyebaran dan gigitan nyamuk aedes aegypty yang dapat menyebabkan penyakit DBD terutama di lingkungan tempat tinggalnya, karena cuaca ekstrim saat ini,” pesannya.

Lingkungan pemukiman masyarakat yang kurang bersih, lanjutnya, sangat berpotensi berkembangnya nyamuk aedes aegypti penyebab penyakit DBD. Karena dari telur (larva) hingga menjadi nyamuk dewasa hanya memakan waktu 7 hingga 10 hari.

Sejauh ini pihaknya, sudah menginstruksikan ke seluruh Kepala Puskesmas di Rohul, untuk dapat melakukan pemantauan dan penyuluhan ke masyarakat terhadap antisipasi dini penyebaran wabah DBD di wilayah kerjanya masing-masing.

“Selain bergerak cepat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), kita juga himbau ke masyarakat harus waspada dan antisipasi dini dengan lakukan gotong royong membersihkan perkarangan di lingkungan rumah. Karena lingkungan yang bersih, dapat terhindar dari berbagai penyakit,”

“Kemudian, kepala desa dan Lurah se-Rohul, untuk bisa menggalakan gotong royong (Goro) massal di daerahnya, untuk membersihkan lingkungan. Itu mengantisipasi agar tidak berkembang sarang nyamuk aedes aegypt, kemudian melakukan gerakan 3 M plus. Bila prinsip itu dilaksanakan, maka dapat terhindar dari penyakit DBD,” sebutnya.

Selain, melaksanakan gerakan 3 M plus yakni Menguras (bak mandi), Mengubur (barang-barang bekas) dan Menutup serta menaburkan bubuk abate sekaligus memasang kasa  (kawat) nyamuk di rumah.

“Bila masyarakat praktekan prilaku hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya, maka dapat terhindar dari penyakit yang bisa memamatikan,” ucapnya.

Juga sekolah-sekolah dan fasilitas umum di Rohul, lanjutnya, agar dapat dibersihkan lingkungannya, sehingga tidak ada tempat perindukan nyamuk yang dapat mematikan manusia tersebut.

Kemudian diingatkan, bila ada anak atau balita yang mengalami demam tinggi yang berlangsung 3 hingga 5 hari, maka segera diperiksakan ke Puskesmas terdekat. Jika ternyata positif terkena DBD, bisa ditolong lebih cepat.***(fit)