Pekanbaru (SegmenNews.com)- Dalam rangka mengatasi kelangkaan LPG 3Kg di beberapa daerah di Pekanbaru, Pertamina sudah lakukan penambahan alokasi. Penambahan tersebut diperuntukkan kepada 12 Agen LPG yang ada di Pekanbaru.
Seperti yang disampaikan Executive LPG V Pertamina Riau, Doni Brilianto. “Alhamdulillah hari Sabtu (04/10/2014), kami sudah melakukan operasi pasar dengan menambah alokasi LPG 3Kg ke 12 agen di Pekanbaru,” ujarnya Selasa (07/10/2014).
Masing-masing agen mendapatkan penambahan satu truk yang bermuatan LPG 3Kg. “Masing-masing agen mendapatkan alokasi satu truk dengan kapasitas 560 tabung,” tambahnya.
Pihaknya juga telah melakukan sidak ke lapangan ke lapangan. “Dan kondisi sudah normal,” sebutnya. Sehingga diprediksi kelangkaan LPG 3Kg yang sering dibunyikan masyarakat tidak lagi terjadi.
Kendati demikian pihaknya tetap memantau hingga kondisi kembali stabil. “Kami akan pantau selama satu minggu ke depan untuk memastikan kondisi kembali kondusif,” katanya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, masyarakat Kecamatan Tampan,Pekanbaru mengeluhkan kesulitan mendapatkan LPG 3Kg. Bahkan masyarakat mesti adu cepat membeli stok LPG di warung-warung dengan harga yang lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET).***(btp/ran)
Wagubri H Arsyadjuliandi Rachman beserta Sekda Prov Riau ikuti sholat Idul Adha di halaman Masjid Agung Annur
Pekanbaru (SegmenNews.com)- Keteladanan yang diperlihatkan oleh para nabi dan rasul hendaknya bisa dijadikan acuan dalam bertindak dan bersikap, sehingga akan tercipta tatanan masyarakat yang agamis dan tertib.
Wakil Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman di sela Shalat Idul Adha 1435 Hijriah di Masjid Agung Annur Pekanbaru, Minggu (5/10/2014), menyatakan, dengan mempedomai perilaku dan keteladanan yang ditunjukkan nabi dan rasul akan menuntun manusia terhindar dari perbuatan tidak baik.
Ia juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa esensi dari Hari Raya Kurban adalah keikhlasan dan makanya dalam berbuat harus diniatkan secara ikhlas.
“Keikhlasan akan mendorong kita jadi lebih baik,” ujar Wagub.
Sementara khatib KH Nazri Ashary dalam khotbahnya mengajak agar umat Islam mau menyisihkan sebagian rezeki untuk berkurban sebagai bentuk kepeduliannya terhadap orang yang tidak mampu.
“Ada banyak orang kurang mampu disekitar kita, dan mendekati Idul Adha mereka berharap bisa menikmati daging. Jangan sampai pengorbanan hewan kurban tidak dinikmati oleh orang yang kurang mampu,” ujarnya.
Wagubri H Arsyadjuliandi Rahman saat membuka Malam Pawai Takbir Idul Adha 1435H-2014M di jalan Gajah Mada
Ia menyatakan berkurban akan menjadikan umat Islam peduli terhadap saudaranya yang masih belum beruntung. Sikap berkurban diharapkan akan menular pada perilaku mau berbagi terhadap rezeki yang diterima, sehingga warga masyarakat jadi bisa terbantu.
“Ingatlah dalam harta yang dimiliki ada milik orang lain. Sikap berkurban dan berbagi perlu terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Bertindak sebagai imam dalam shalat yang dipenuhi ribuan jamaah, hingga meluber ke pekarangan masjid yang luas dan jadi kebanggaan masyarakat Riau itu Drs H Mukhsin Zaharie yang juga sebagai Ketua IKMI Riau.***(advertorial/hms)
Selatpanjang (SegmenNews.com)- Sejak ditinggal ayahnya dua bulan silam, Muhammad Marsya Akbar berumur 2,3 tahun kerap bertingkah aneh dan sering emosi. Bahkan tak jarang Marsya berteriak-teriak dan emosi jika disinggung soal ayahnya yang tak pulang-pulang.
Pengakuan ibu Marsya, Mrh (34) asal Kota Dumai yang sudah dua bulan berada di Meranti mencari suaminya, Syamsudin Tuamin seorang pejabat di Pemerintahan Meranti. Sejak peninggalan ayahnya itulah anak pertamanya, Marsya kerap emosional, seperti ada gangguan fsikologi.
“Ya, sejak ditinggal ayahnya, Marsya sering teriak-teriak, dan menghancurkan barang-barang didekatnya,” ungkap Mrh baru-baru ini.
Menurut ibu dua anak itu, Marsya juga sering memukulkan tangkai sapu kekepala ibunya, jika dikatakan ayahnya takkan pulang. Marsya juga sering berteriak-teriak memanggil nama ayahnya.
“Marsya sangat dekat dengan ayahnya, dia rindu ayahnya, sulit rasanya dipisahkan langsung dengan ayahnya. Sebelumnya Marsya tak begitu,” aku Mrh.
Mrh berharap, walaupun dia dan suaminya sulit bersatu kembali, setidaknya suaminya memperhatikan anak-anaknya. Dikhawatirkan, nantinya anaknya mengalami gangguan fsikologi.
Selatpanjang (SegmenNews.com)- Kondisi tiga pulau di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau kian memperihatinkan, bahkan nyaris tenggelam akibat abrasi yang berkepanjangan. Pusat harus segera turun tangan membantu Daerah menyelamatkannya.
Tiga pulau yang butuh penyelamatan itu yakni, Pulau padang, Pulau Merbau dan Pulau Rangsang. Walaupun Pemerintah setempat telah berupaya melakukan pencegahan abrasi melalui program penanaman hutan mangruve dan pembangunan turap pemecah gelombang yang terbuat dari beton maupun kayu nibung, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal.
Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun) Meranti, Ma’mun Murod kemarin, menurutnya, penanganan abrasi di tiga pulau itu membutuhkan bantuan Pemerintah Pusat. Pencegahan itu harus segera dilakukan sebelum tiga pulau itu tenggelam.
“Pemerintah pusat diminta tidak menunda-nunda waktu lagi, dan segera turut andil menyelesaikan masalah abrasi yang terjadi di kepulauan Meranti ini. Ya, seperti uapaya Pemerintah Pusat yang lagi giat-giatnya menyelamatkan wilayah perbatasan dari hilangnya pulau pulau terluar akibat terkena abrasi maupun dicaplok oleh pihak asing, inilah langkah yang sangat tepat dan harus dilakukan,” tukas Ma’mun Murod.
Menurutnya, abrasi besar terjadi karena posisi letak geografis wilayah Meranti berhadapan langsung dengan perairan selatmalaka yang memiliki gelombang musim utara. Ditambah lagi tingkat kepadatan transportasi laut yang cukup padat. Sehingga itu menyebabkan gelombang besar dan mengikis tepian pulau.
“Kita khawatir, daratan pulau semakin kecil dan hilang,” ujarnya.***(def)
Timnas U-19 berlatih di Madrid, Spanyol. Nine Sports
Jakarta (SegmenNews.com)- Indra Sjafri, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia di bawah usia 19 tahun (timnas U-19), mengatakan persiapan para pemainnya menuju Piala Asia U-19 sudah mendekati final. Saat ini Evan Dimas dan kawan-kawan tengah menjalani pemusatan latihan di Yogyakarta sebelum bertanding di Myanmar, 9–23 Oktober mendatang. “Persiapan sudah fix, kami siap tempur,” kata Indra ketika dihubungi dari Jakarta, Jumat, 3 Oktober 2014.
Mantan pemain PSP Padang itu mengatakan tidak ada lagi latihan keras. “Latihan saat ini lebih pada set pieces (tendangan bola-bola mati) seperti corner kick (tendangan pojok), free kick (tendangan bebas), dan penalty kick (tendangan penalti).”
Indra sudah memastikan 23 pemain yang akan dibawa ke Myanmar. Menurut pria asal Sumatera Barat itu, dalam melakukan pencoretan pemain pihaknya sudah mempunyai standar yang jelas serta tidak sembunyi-sembunyi. (Baca: Inilah Skuad Final Timnas U-19 untuk Piala Asia)
“Tidak semuanya cedera, tapi ada yang memang tidak bisa masuk. Alasannya teknis dan saya tidak bisa menjelaskan ke media,” ujar pelatih yang kini berusia 51 tahun ini.
Timnas Indonesia U-19 tergabung di Grup B dalam putaran final Piala Asia U-19 di Myanmar bersama dengan Uzbekistan, Australia, dan Uni Emirat Arab. Indra telah mempelajari kekuatan tim-tim yang akan menjadi lawan pada babak penyisihan grup. Menurut dia, tiga tim pesaingnya itu sudah mengalami perkembangan cukup pesat.***
Jakarta (SegmenNews.com)- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah dan kantor Gulat Medali Emas Manurung, tersangka suap izin lahan yang melibatkan Gubernur Riau Annas Maamun, di Pekanbaru. Penyidik KPK berjumlah lebih dari enam orang itu sudah mendatangi rumah Gulat Manurung di Jalan Rawasari No 8, Kecamatan, Bukit Raya, Pekanbaru, Sabtu, 4 Oktober 2014.
Berdasarkan pantauan, dari rumah Gulat berlantai dua itu, penyidik menyita satu koper, satu tas, dan satu kardus dokumen. KPK juga menggeledah satu unit mobil Grand Livina pelat merah dengan nomor polisi BM-1805-TP. Namun tidak ada informasi diperoleh dari penyidik.
Tepat pukul 12.00 siang, Sabtu, 4 Oktober 2014. Rombongan penyidik juga menggeledah kantor PT Anugerah Kelola Artha di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, namun belum diketahui pemilik perusahaan tersebut. Penyidik KPK yang bertugas saat penggeledahan tidak bersedia member informasi.
KPK resmi menetapkan Gubernur Riau Annas Maamun sebagai tersangka penerima suap senilai Rp 2 miliar terkait dengan proses alih fungsi 140 hektare lahan kebun sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Selain uang senilai Rp 2 miliar dalam pecahan Sin$ 156 ribu dan Rp 500 juta, tim KPK juga menemukan uang US$ 30 ribu. (Baca: Gubernur Riau Jadi Tersangka Suap Rp 2 Miliar)
KPK juga mengenakan status tersangka terhadap pengusaha bernama Gulat Medali Emas Manurung, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Riau, sebagai pemberi suap. Tidak hanya soal izin lahan, KPK juga menyimpulkan uang suap digunakan sebagai ijon proyek-proyek lain di Riau. (Baca juga: Lawan Annas Maamun, Camat Ini 4 Tahun Tak Digaji).*** Red: hasran Sumber: tempo.co
Rokan Hulu (SegmenNews.com)- Terbersit diingatan jika mendengar kata hutan lindung, pastinya terbayang hamparan hutan yang ditumbuhi pepohonan lebat, masih perawan dan belum terjamah oleh manusia. Namun kenyataanya di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, hutan itu tak lagi rimbun.
Padahal hutan yang dilindungi oleh Negara itu sangat berarti untuk mengatasiglobal warming (pemanasan global). Namun, tanpa bisa dihentikan, sedikit demi sedikit 265 ribu hektare hutan lindung kebanggan masyarakat Rokan Hulu berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, yang dilakukan oleh mafia hutan.
Di Mahato, Kecamatan Tambusai Utara saja, 28 ribu hektare hutan lindung sudah habis dibabat oleh mafia hutan dari perusahaan dan sekelompok oknum, diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, tentu hasilnya sangat menggiurkan oknum-oknum tak bertanggung jawab itu.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun), Sugiyarno sendiri kepada wartawan, Jum’at (3/10/14) mengakui itu. Katanya hutan lindung Mahato sudah habis dibabat. Sementara hutan lindung di Bukit Suligi juga nyaris habis dibabat oknum.
Saat ditanya berapa hektare sisa hutan lindung di Rokan Hulu, Sugiyarno terdiam, seolah-olah hutan lindung tak lagi tersisa.
“Data jelasnya sisa hutan lindung belum diketahui,” ujarnya seraya menyampaikan susah menghitungnya karena ada ditengah- tengah perkebunan oknum juga.
Untuk mengambil tindakan pihaknya harus telaten terkait hukum, karena tidak ingin dipraperadilankan dan dipetunkan seperti yang dialaminya sebelumnya.
Ketika ditanya sejauh mana tupoksinya dalam pengendalian dan pengamanan hutan di Mahato, dia mengaku kesulitan memasuki wilayah hutan lindung Mahato karena rombongan sering dihadang oleh oknum seolah-olah mereka menjadi pengganggu. Apalagi perusahaan itu sudah membabat hutan semasa masih Kabupaten Kampar (sebelum pemekaran Rokan Hulu).
“Sulit masuknya (hutan lindung mahato), kami dihadang seolah-olah kami ini musuh. Harus inilah, itulah,” jelas Sugiyarno.
Sugiyarno juga mengaku pernah diancam keselamatannya saat ekspos Mahato dan mengirim surat ke Kementerian Kehutanan. “Setiap saya ekspose saya diancam,” aku Sugiyarno seraya mengatakan isi ancaman ‘Jangan kau buat (ekspose) kalau mau selamat’.
Ancaman terhadap dirinya sering kali terjadi dengan nomor yang berbeda-beda, mulai dari sms yang tidak bernomor hingga nomor pribadi seseorang.
Sementara untuk menyelamatkan fungsi hutan lindung kembali, pihaknya tak bisa bekerja sendiri, harus ada kerjasama antara pihak Provinsi maupun Pusat. Sebab untuk mengatasi itu dibutuhkan biaya yang cukup banyak. Kenyataannya hingga sekarang hal itu belum terwujud.***(ran)
Mrh bersama kedua anaknya saat berada di salah satu hotel di Meranti
Selatpanjang (SegmenNews.com)– Dua bulan sudah, Mrh (34) asal Kota Dumai bersama kedua anaknya, Muhammad Marsya Akbar (2,3) dan adiknya berada di Kepulauan Meranti, Riau untuk mencari keadilan seorang ayah yang menjabat sebagai Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip di Kepulauan Meranti, Samsudin Tuamin (45).
Walaupun sudah menanti dua bulan dan berbagai ancaman dari keluarga oknum pejabat itu mendera Mrh sebagai istri kedua: Baca (wartawanpun Diancam) . Dia tetap kekeh mencari keadilan dan menuntut hak-hak anaknya yang belum ada kejelasan. Hingga saat keluarga kecil itu masih menetap di Meranti, tak pulang ke Dumai sebelum ada kejelasan dari sang ayah yang menelantarkan mereka.
Dalam mencari keadilan, keluarga kecil itu didera berbagai masalah, sebelumnya diancam oleh diduga pihak keluarga Oknum pejabat, kali ini, anaknya M Marsya Akbar ditabrak sepeda motor di jalan Merbau Kota Selatpanjang saat akan menyebrangi jalan pada hari Minggu (29/10/14).
Anak yang baru berumur 2,3 tahun itu sempat dirawat diklining pengobatan Dr Joko Nugroho jalan Kesehatan karena mengalami luka-luka di pipi dan kepala, untungnya penabrak itu ikut menolong dan bertanggung jawab.
Saat di temui wartawan, raut wajah gelisah dan sedih menyelimuti ibu dua anak itu. raut wajahnya juga terlihat mengharap belas kasihan, namun dia tak memiliki keluarga tempat mengadu kegundahannya di Meranti selain mengharap sang suami ayah dari anak-anaknya kembali. : Baca Juga Sebelumnya (Ibu dan Anak Mencari Keadilan).
“Anak saya ditabrak sepeda motor untungnya bapak itu bertanggung jawab membawa anak saya kerumah sakit ini,” ucap ibu itu dengan bibir bergetar sambil menitikkan airmatanya.
Untungnya anak itu tak mengalami luka parah. Namun saat ditanya mengenai upayanya mencari ayah dari anaknya itu. Ibu itu tak mampu membendung air matanya, air mata yang sudah mengumpul di pelopak matanya mengalir deras kepipinya, seperti tak mampu berkata-kata lagi.
Karena segala upaya yang ditempuhnya untuk mencari bantuan agar suaminya mengakuinya dan anak-anaknya seperti harapan yang menggelayut diatas tanpa tau kapan turun dan perginya. Atau tidak ada kejelasan.
“Saya dan anak-anak merasa diterlantarkan dan dizalimi. Bahkan saya terus mendapat tekanan dan ancaman dari keluarga adik-beradik suami saya, maka saya melapor ke Kantor Polisi dan menemui Sekda selaku pimpinannya, agar beliau mau menjembatani penyelesaian masalah rumah tangga kami,” ujar Mrh disertai sisa sisa isakan tangisnya.
Sebelumnya Sekda Meranti, Drs H Iqaruddin MSi dikonfirmasi berjanji akan menjembatani penyelesaian keluarga itu, dengan mempertemukan mereka. Namun sampai sekarang belum ada kejelasan. Baca (Sekda Janji Jembatani Permasalahan).***(tim/df)
Selatpanjang (SegmenNews.com)- Fenomena yang tidak layak dan akan merusak generasi mewarnai kota selatpanjang. Sejak menyandang predikat sebagai ibukota kabupaten kepulauan Meranti, kemajuan Pembangunan terus bertambah. Namun sayangnya Pemda setempat seakan melupakan dampak sosial masyarakat yang diakibatkan lokasi kos-kosan yang diduga tempat mesum.
Sudah menjadi rahasia umum di sejumlah lokasi kos-kosan banyak dihuni oleh wanita-wanita cantik bertubuh seksi. Bahkan tak jarang kamar kosan diisi oleh pasangan yang bukan suami istri, ada juga yang disinyalis wanita disana sebagai simpanan lelaki berduit.
Pantauan dilapangan, kos-kosan yang disinyalir tempat mesum itu berada dikawasan sungai Juling kelurahan Selatpanjang Barat. Ada juga diseputaran jalan Imam bonjol, Kartini, Diponegoro dan jalan tebing tinggi, tak hanya itu masih banyak lagi kos-kosan diduga tempat mesum di Kota Selatpanjang.
Tak hanya itu, pemandangan yang akan mengganggu iman masyarakat juga terlihat disejumlah penginapan atau wiswa. Betapa tidak, wanita-wanita cantik bertubuh seksi hilir mudik di penginapan seperti penjaja sex. Kondisi itu sangat disayangkan dan ditakutkan akan mejadi penyakit baru bagi masyarakat.
Menanggapi hal itu, aktivis Lembaga Surve Independen Kepulauan Meranti, Buyung, Jum’at (3/10/14) sangat menyayangkan lambannya penanganan Pemda Meranti terhadap lokasi-lokasi yang disinyalir tempat mesum. Seharusnya Pemda setempat cepat tanggap yang terjadi ditengah-tengah masyarakat yang nantinya akan berdampak pada gangguan sosial masyarakat.
Selain itu, Pemda setempat juga harus cekatan dalam pendataan izin-izin usaha maupun bangunan yang dijadikan penginapan. Sehingga akan diketahui kesesuaian izin bangunan dan izin usahanya dengan yang dilakukan mereka.***(tim)
ROKAN HULU (SegmenNews.com)- Menyikapi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Adha 1435 H, dimana satu kelompok, dalam hal ini Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkannya pada tanggal 4 Oktober 2014 M, sedangkan pada kelompok lain, dalam hal ini Pemerintah bersama Pimpinan Ormas Islam lainnya, menetapkannya pada tanggal 5 Oktober 2014, hendaknya perbedaan ini tidak merusak ukhuwah Islamiyah.
Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA kepada sejumlah wartawan media, Jumat (3/10/2014) bertempat di kantornya, Jalan Ikhlas Kompleks Perkantoran Pemerintah, Kota Pasir Pengaraian.
Dikatakannya, sebenarnya waktu Hari Raya Idul Adha itu seluruh ulama Islam di seluruh dunia, sepakat (Ijma’) bahwa Hari Raya Idul Adha adalah pada tanggal 10 Zulhijjah setiap tahun, yang berbeda itu adalah kapan waktunya 10 Zulhijjah itu sesuai dengan penghitungan bulan Syamsiyah (masehi).
Ahmad Supardi lebih lanjut mengatakan, Idul Adha itu 10 Zulhijjah dalam hukum Islam disebut dengan Syari’ah yaitu penetapan langsung dari Allah dan RasulNya. Sedangkan kapan jatuhnya 10 Zulhijjah itu adalah disebut dengan Fiqh yaitu pemahaman para ulama terhadap Syari’ah itu.
Ditambahkannya, dalam hal Syari’ah para ulama tidak berbeda pendapat, sebab tataran ini menjadi wewenang Allah dan RasulNya. Sedangkan Fiqh adalah tataran para ulama dalam memahami Syari’ah, sehingga tak bisa dihindari dan bahkan terbuka lebar untuk perbedaan pendapat, contohnya penetapan 10 Zulhijjah.
Ahmad Supardi lebih lanjut mengatakan, ada dua metode besar dalam penetapan 10 Zulhijjah, termasuk 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Pertama, dengan metode rukyah, yaitu menetapkan awal hari bulan dengan melihat bulan secara langsung. Kedua, dengan metode hisab, yaitu menghitung peredaran bulan secara ilmu pengetahuan.
Kedua metode ini, sama-sama benar, dapat dibenarkan, dan dapat diikuti, sebab sama-sama memiliki dasar yang kuat dalam penetapannya. Untuk itu, mari kita sikapi perbedaan ini secara arif dan bijaksana, sebab yang namanya fiqh membuka peluang besar untuk terjadinya perbedaan. Dan perlu disadari bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat, tegas Ahmad Supardi.***(ran)