Beranda blog Halaman 2612

Kisah Pemburu Kepala

(Historia - Hendaru Tri Hanggoro)
(Historia – Hendaru Tri Hanggoro)

SegmenNews.com- MARCO POLO, avonturir dari Italia, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya di Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, dia melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia. Sangat berlawanan dengan penduduk yang tinggal di kota Perlak, di mana masyarakatnya lebih beradab, bahkan setelah berhubungan dengan pedagang-pedagang Islam, mereka berpindah dari menyembah berhala menjadi pengikut ajaran Muhammad.

Dia menuliskan itu dalam catatan perjalanannya. Dia tahu catatannya akan mengejutkan, dan mungkin tak dipercaya banyak orang. Karena itu, dia sampai bersumpah untuk meyakinkan pembacanya.

Selang lima bulan kemudian, Marco Polo menuju Pidie, daerah utara Sumatra lainnya. Di tempat ini, dia mendapati satu keluarga menyantap seluruh badan seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit.

“Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam “Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara Pada 1920-an” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Berbeda dari Marco Polo di Sumatra, dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, diceritakan sebuah suku pemburu kepala di Wu-long-li-dan, pedalaman Banjarmasin. Suku pemburu kepala itu disebut orang Beaju –Be-oa-jiu dalam lafal Hokkian (Fujian) selatan–, sebuah suku besar orang Dayak di pedalaman. Mereka berkeliaran saat malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia.

“Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka,” demikian dikutip W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa.

Kala itu, kisah perburuan kepala manusia di wilayah pedalaman tengah dan timur Nusantara telah tersebar luas di kalangan penjelajah dari mancanegara, serupa dengan kisah kanibalisme. Tapi minat mereka terhadap Nusantara tak pernah surut. Kapal-kapal dari pelabuhan penting di Eropa tetap berlayar menuju Nusantara untuk berdagang. Perlahan mereka menjelajah kepulauan Nusantara hingga ke pedalamannya dan bertemu dengan suku pemburu kepala manusia.

Maret 1648. Perang antarkampung telah berlangsung berhari-hari di Seram. Perang itu melibatkan orang-orang kampung di wilayah pantai dan orang gunung yang disebut Alifuru. Meski tak diketahui secara pasti, VOC (Vereenigde Oostindische Campaignie) melaporkan banyak korban tewas.

Korban dari pihak wilayah pantai ditemukan tanpa kepala. Gubernur Ambon Robert Padtbrugge mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian. Selain itu, dia meminta tim untuk meneliti adat berburu kepala orang Alifuru.

Tim kembali ke Ambon tanpa hasil. Perang tetap berkobar. Dan mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa orang Alifuru memburu dan mengoleksi kepala musuhnya.

“Di hadapan gubernur, tim itu melaporkan hasil penelitiannya mengenai kepercayaan orang Alifuru. Meski mengaku telah bekerja dengan baik, mereka tak berhasil menjelaskannya secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Mereka tak bisa memahaminya,” tulis Gerrit J. Knaap dalam “The Saniri Tiga Air (Seram)”, Jurnal KITLV Vol. 149 No. 2 (1993).

Tim hanya mampu menjelaskan bahwa adat memburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup orang Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Bagi orang Alifuru, memburu kepala musuh telah menempati posisi penting dalam kehidupan sosial dan kepercayaannya. Anehnya, adat itu tak mereka lakukan terhadap orang asing, baik Eropa maupun wilayah Nusantara lainnya. Penerimaan mereka terhadap orang asing sangat baik.

Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantara VOC meski usaha itu akhirnya gagal.

Sementara itu, di Sulawesi, perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum kedatangan orang Belanda. Orang Toraja Bare’e yang bermukim di Sulawesi Tengah selalu mengambil kepala musuhnya dalam tiap peperangan mereka, selama memungkinkan. Mereka harus membunuh dan memotong kepala musuhnya dengan cepat agar musuh tak mengalami penderitaan yang lama.

Kepala musuh kemudian dibawa ke kampung mereka. Upacara pun dilakukan. “Kepala diperlukan sebagai akhir masa berperang dan penahbisan di kuil sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani,” tulis R.E. Downs dalam “Head-Hunting in Indonesia”, Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1 (1995).

Perburuan kepala di Sulawesi masih berlangsung hingga kedatangan orang Eropa. Alfred Russel Wallace, naturalis tersohor asal Inggris, yang mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan cerita itu langsung dari penduduk lokal (Minahasa). Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah.

“Mereka berburu kepala manusia layaknya suku Dayak di Kalimantan… Ketika seorang kepala suku meninggal, dua potong kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya… Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku,” tulis Wallace dalam catatannya, dimuat dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 karya George Miller.

Walaupun Wallace hidup di tengah penduduk pemburu kepala, Wallace merasa tak terancam. Bahkan, dia justru terkesan dengan karakter mental orang Minahasa. “Mereka juga memiliki karakter mental dan moral yang unik,” tulis Wallace. “Pembawaan mereka tenang dan halus.

Adat berburu kepala tak selamanya dipertahankan oleh suku-suku pedalaman. Di Borneo misalnya, sebuah perjanjian antarsuku dibuat untuk menghentikan saling bunuh (habunu), memenggal kepala (hakayau), dan memperbudak (hajipen). Perjanjian pada 1894 itu termashyur dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi.

Sebelumnya, beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Seorang penulis berkebangsaan Norwegia mengukuhkan citra itu melalui bukunya yang terbit pada 1881, The Head-Hunters of Borneo. Dalam bukunya ini, Carl Bock menuliskan suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah mendapatkan kepala musuh, seseorang berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan.

Suku-suku di Borneo memiliki beragam alasan berburu kepala musuh seperti balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri.

Ini karena Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki pandangan yang berbeda mengenai ngayau (memburu kepala). “Saya yakin tak ada satu pun analisis yang bisa menjelaskan dengan tepat praktik dan makna-makna perburuan kepala…,” tulis Yekti Maunati dalam Identitas Dayak. “Di kalangan orang-orang Dayak sendiri terdapat berbagai kepercayaan dan mitologi.”
(Historia – Hendaru Tri Hanggoro)

Red: ran
Sumber : historia.co.id/yahoo

Kantor TVOne Dikepung, Jokowi Tak Bisa Kontrol Simpatisan

int
int

SegmenNews.com– Kandidat presiden nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi) meminta media massa tidak ikut memanas-manasi suasana kampanye pemilihan presiden (pilpres). Hal itu dikatakan Jokowi terkait adanya tindakan pengepungan salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta dan Yogyakarta oleh massa PDIP karena pemberitaan stasiun televisi tersebut yang dianggap menyudutkan Jokowi atas isu keterkaitannya dengan PKI.

“Tapi kan medianya ikut bantu manas-manasin. Salah sendiri manas-manasin. Makanya jangan ikut manas-manasin. Jangan sekali-kali salahkan relawan,” kata Jokowi saat konferensi pers di Bandung, seperti dikutip dari Antara, Kamis (3/7).

Jokowi mengatakan dirinya tidak memiliki kontrol penuh atas tindakan para relawan maupun simpatisan meski dalam setiap kesempatan kampanye dirinya mengaku selalu mengingatkan relawan agar selalu sabar.

“Meski sudah saya sampaikan di mana-mana bahwa kejelekan harus dibalas kebaikan, tapi kan tidak mungkin semuanya bisa kita handle. Mungkin kali ini memang sudah keterlaluan sampai mereka bereaksi,” kata Jokowi.

Jokowi mengaku sudah sangat terbuka pada media terkait silsilah keluarganya sehingga tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

“Sebenarnya kita kurang sabar apa? Sejak awal kita diamkan tapi yang terakhir ini penghinaan besar karena bukan hanya ditujukan pada saya tapi pada keluarga saya juga. Jumlah relawan itu ribuan tidak mungkin kita suruh sabar semua,” katanya.

Sebelumnya, Kantor TvOne Biro Daerah Istimewa Yogyakarta disegel massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rabu malam. Penyegelan terkait pemberitaan yang dianggap menyudutkan partai itu.***

Red: ran
Sumber: Merdeka.com

Demam Piala Dunia, Indra Birowo Tak Mau Ikut Taruhan

Indra Birowo/KapanLagi®
Indra Birowo/KapanLagi®

SegmenNews.com- Pada laga Piala Dunia 2014 yang diselenggarakan di Brasil, Indra Birowo mengaku menjagokan Jerman dan tuan rumah yang nantinya akan memegang trofi piala bergengsi itu. Kalau memiliki waktu senggang, biasanya ayah dua anak itu menyempatkan menonton bersama teman-temannya.

“Nobar (nonton bareng) iya, tetapi kalau yang buat saya seru saja. Nggak semua ditonton,” ucapnya usai workshop film Valentine di Bangka, Jakarta Selatan, Rabu (2/7).

Biasanya kalau sedang menonton bersama para sahabat tercinta, kebanyakan dari mereka melakukan taruhan untuk mendapatkan suasana yang lebih tegang. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Indra. Kenapa?

“Saya paling nggak berani taruh-taruhan. Soalnya kalau taruhan biasanya sial, makanya nggak mau,” ungkap lelaki yang lahir pada 9 Januari 1973 sambil tertawa.

Yang pasti untuk Piala Dunia tahun ini, Indra sulit melakukan prediksi siapa yang nantinya akan menang. Apalagi juara dunia tahun lalu, Spanyol sudah lebih dahulu tersisih.

“Kalau permaninan banyak sekarang yang bagus-bagus, Brasil dan lain-lain. Tapi untuk sekarang, nyangkutnya di Jerman,” pungkasnya.***

 

Red: Sondri
Sumber: kapanlagi

 

Nikah Diam-Diam, Istri Khrisna Mukti Sudah Hamil Duluan?

krisnaSegmenNews.com- Pernikahan diam-diam yang dilakukan oleh Khrisna Mukti menuai banyak sekali kontroversi. Mulai dari isu bahwa pernikahan itu hanya sekedar sandiwara, hingga kabar bahwa pernikahan itu dilakukan dalam diam lantaran sang istri sudah hamil duluan.
Kabar itu beredar lantaran istri Khrisna, Devi Nurmayanti kini sudah hamil 4 bulan. Sementara pernikahan mereka baru dilangsungkan pada bulan Juni yang lalu.

Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Khrisna tidak menampik bahwa kini istrinya memang tengah hamil. Tapi ia menyangkal kalau pernikahannya dilangsungkan lantaran sang istri sudah hamil di luar nikah.

Kabarnya, istri Khrisna Mukti hamil di luar nikah, benarkah?

“Kita hebat ya. Membuat orang bertanya-tanya. Baru menikah langsung hamil,” ujar Khrisna saat ditemui awak media, Rabu (2/7).
Khrisna tak mau menjelaskan lebih panjang. Namun ia menyatakan bahwa, meski pernikahan resminya memang baru dicatatkan pada bulan Juni, tapi sebenarnya mereka sudah menikah sejak bulan Desember 2013 lalu. Jadi kabar bahwa istrinya hamil sebelum menikah tidak benar.

“Awalnya kita berdua kan kawain siri dulu bulan Desember 2013. Setelah itu, karena kesibukan saya kampanye, sosialisasi dan sinetron. Akhirnya baru nikah legalnya tahun ini, 23 Juni 2014 di KUA Beji, Depok,” jelasnya.***

 
Red: Sondri
Sumber: kapanlagi

Pipik : Kerugian Saya, Saat Saya Tak Bisa Selamatkan Anak-anak

Pipik Dian Irawati
Pipik Dian Irawati

SegmenNews.com– Atas musibah kebakaran yang menimpa rumah Pipik Dian Irawati, dia pasrah kepada allah. Sebab menurutnya, semua itu adalah ujian yang diberikan allah, dan allah pasti memiliki jawabannya.

Sebagian orang bertanya kerugian material yang dideritanya, namun bagi janda almarhum Uje ini bahwa kerugiannya adalah saat dia tak bisa menyelamatkan anak-anaknya.

“Banyak orang bertanya kerugian materi. Kerugian saya saat tak bisa menyelamatkan anak-anak,” kata Pipik di acara live hitam putih tran7, Kamis (3/7/14)malam.

Walaupun berbagai cobaan yang dialaminya, Pipik tetap tabah dan menyerahkan semuanya kepada allah. Dia tak ingin melihat kebelakang lagi, hanya mau menatap kedepan.

“Saya hanya melihat kedepan dan tak melihat kebelakang lagi,” imbuhnya.***(Son)

Nikita Mirzani Ngidam Berlian?

Nikita Mirzani
Nikita Mirzani

SegmenNews.com– Nikita Mirzani memang mengaku kehamilan kedua ini sangat berbeda dengan kehamilan pertama. Dia sering mual, dan pada akhirnya membuat malas, serta lebih sering beristirahat.

“Tidur agak sulit, pinggang pegal. Cepat capek, capek banget. Kerjaan dikurangin mungkin, karena anaknya laki-laki juga, jadi kalau kata orang lebih males,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (3/7/2014).

Apalagi untuk masalah ngidam, bintang film Comic 8 ini sama sekali tidak ingin ngidam terhadap makanan apapun, kecuali batu berlian yang mengkilau.

“Ngidam paling ngidam berlian kali ya, hahahahahaa. Soalnya enggak ada ngidam makanannya, enggak ada ngidam makanan sama sekali,” tandasnya.***

 
Red: Sondri
Sumber: okezone

Liat Rekonstruksi, Istri Almarhum Uje Sedih

Rekonstruksi pembakaran rumah almarhum Uje
Rekonstruksi pembakaran rumah almarhum Uje

SegmenNews.com – Istri almarhum Ustadz Jefrry Al Buchory (Uje), Pipik Dian Irawati sangat sedih ketika melihat prarekonstruksi pembakaran rumah, dan pencurian uang miliknya oleh IV, mantan pegawainya.

“Kan kalian bisa lihat sendiri, saya berbuat baik menolong, tetapi keadaan dibalas seperti ini, ya kecewa. Tetapi saya enggak lihat ke belakang, ini sudah ada yang mengatur, dan sudah diurus polisi,” ungkap Pipik saat ditemui di kediamnnya, kawasan Rempoa, Jakarta Selatan, Kamis (3/7/14).

Setelah mengetahui secara jelas gambaran kasusnya itu, janda empat anak tersebut menyerahkan seluruhnya kepada pihak Kepolisian Resort Jakarta Selatan.

“Sekarang enggak gimana-gimana, gimana dong, yang sudah-sudah ya sudah. Ini semua sudah urusan kepolisian, saya serahkan ke pihak yang berwajib, saya datang ingin melihat saja,” tandasnya.

Total prarekonstruksi ada 10 adegan yang dilakukan IV sejak tidur di taman, lalu menyulut gorden lantai satu kediaman Pipik, hingga kebakaran, dan puncaknya saat mengambil uang Rp4 juta.

Dari prarekonstruksi ini diharapkan dapat mempermudah proses penyidikan kepolisian untuk mempercepat masuknya berkas ke Kejaksaan, dan masuk tahap persidangan.***

 

Red: Son
Sumber: okezone

Bejad! Gadis ini Diperkosa di Depan Orangtuanya

int
int

Pekanbaru (SegmenNews.com)- Gadis berumur 17 tahun, JP mengalami perkosaan oleh pelaku perampokan dirumahnya, mirisnya perkosaan itu terjadi didepan kedua orangtuanya yang dapat berbuat banyak.

Dikatakan Kabid Humas Polda Riau, AKBP Guntur Aryo Tejo SIK, Kamis (3/7/14), kejadian perampokan sekaligus perkosaan tersebut terjadi, Senin (1/7/14) sekitar pukul 01.30 Wib di Blok C, Desa P. Wangi, Kecamatan Peranap.

Bermula, malam itu ayah korban perkosaan tersebut, SA (49) dikejutkan dengan suara gaduh pintu rumahnya, yang didobrak oleh pelaku perampok. Seketika itu juga SA di ditodongkan senjata parang oleh 4 pelaku yang tak dikenal itu.

SA disuruh tiarap, namun istrinya, MA (47) yang kelur dari kamar juga ditodongkan parang dan disuruh tiarap agar tidak melakukan perlawanan.

Pelaku lantas kembali memeriksa kamar berikutnya yang terdapat anak gadis berumur JP 17 tahun. JP diseret keruang tengah dan menyuruh tiarap bersama kedua orang tua nya.

Empat pelaku perampokan itu menguras harta benda korban, 1 buah mesin sainsaw, 1 buah ketam, 1 buah dompet berisi uang Rp100 Ribu, dan 1 buah Handphone. Ternyata hasil rampasan tak memuaskan pelaku, sehingga melampiaskannya kepada JP persis didepan mata kedua orang tuanya.

“Polisi sudah meminta keterangan dari korban, dan korban sudah melaporkan kejadian ini ke Polsek Peranap. Bersama Polsek Peranap, Polres Inhu memburur pelaku perampokan sekaligus perkosaan itu,” tegasnya.***(chir)

Diskes Pekanbaru: Waspada Makanan Berformalin

 

ilustrasi
ilustrasi

Pekanbaru (SegmenNews.com)- Masih banyaknya makanan berbuka puasa yang disinyalir mengandung zat-zat berbahaya seperti Rhodamin B dan Formalin. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menghimbau kepada masyarakat agar lebih teliti dalam memilah makanan.

“Kita imbau kepada masayarakat agar lebih berhati-hati dan teliti dalam memilih makanan. Sebab jika makanan trsebut mengandung zat berbahaya tentunya akan merugikan bagi kesehatan,” imbau Kadiskes Pekanbaru, Helda S Munir, Kamis (03/07/2014).

Kadiskes menjelaskan sedikit tentang makanan mengandung formalin, seperti makanan jenis cendol berwarna mencolok diindikasikan cendol tersebut mengandung Rhodanim B, Sementara mekanan jenis Tahu yang tegang, didindikasikan mengandung formalin.

“Lebih aman takjil dibuat sendiri,” saran Helda.***(chir)

Berikut Tips Memilih GPS untuk Mudik

Ilustrasi GPS
Ilustrasi GPS

Jakarta (SEGMEN NEWS) – Terdapat banyak jenis GPS (Global Positioning System) yang dapat membantu pemudik dengan kendaraan roda empat maupun roda dua dalam perjalanannya pulang ke kampung halaman.

Menurut Kasmali, Call Center Manager RAJAGPS.co.id, toko yang menjual GPS di daerah Gunung Sahari, di Jakarta, Rabu, GPS navigasi yang beredar pada umumnya sudah sesuai dengan kebutuhan untuk mudik namun memang perlu diperhatikan beberapa aplikasinya.

Berikut beberapa kiat untuk memilih GPS untuk mudik :

1. Detail peta
Detail peta yang digunakan oleh berbagai GPS berbeda-beda, ada yang memberikan detail hingga rumah makan sampai tempat pengisian bahan bakar, ada juga yang tidak. Pilih sesuai kebutuhan.

“Tergantung detail map-nya, kalau produk GPS SF550B yang disediakan toko kami, detail mapnya sudah lengkap karena dalam pengoperasiannya telah menggunakan 24 satelit,” kata Kasmali.

2. Upgrade peta
Selain detail petanya lengkap atau tidak, harus dipilih juga GPS yang dapat memberikan upgrade peta terkini mengingat kondisi jalan yang biasanya berubah-ubah.

“Upgrade map GPS umumnya harus bayar, tapi ada juga yang bisa langsung di-upgrade tanpa membayar lagi dengan kualitas yang baik,” kata Kasmali yang mengatakan tempatnya bekerja telah mengembangkan produk GPS selama 6 tahun.

3. Lalu lintas
GPS yang terhubung online mampu memberikan kondisi lalu lintas agar dapat menghindarkan pengendara dari kemacetan lalu lintas.

“Jalur mudik saya memang itu-itu saja, tapi saya butuh tahu macet di mana sampai mana, biar saya bisa pilih alternatif lain,” kata Octavianus Winkie, warga Jakarta yang berencana mudik pada Lebaran 2014.

4. Jenis GPS
GPS yang hendak dipilih sebaiknya adalah GPS portable yang dapat dibongkar pasang dengan mudah pada kendaraan roda empat atau bahkan roda dua.

“GPS jenis portable cocok untuk kendaraan apa saja, Toyota, Honda, Daihatsu, dan sebagainya, jadi kalau mau ganti kendaraan ya gampang, bahkan untuk dipakai ke motor juga bisa meskipun butuh holder khusus,” kata Kasmali.

5. Layar GPS
GPS yang hendak dipilih juga harus disesuaikan dengan penggunanya, bila pengguna tidak bisa baca tulisan yang kecil jangan pilih GPS yang kecil. Namun layar standar yang biasa digunakan orang adalah layar ukuran 4,3 sampai 5,0 inci.***

 

Red: Sondri
Sumber : antara