Beranda blog Halaman 2701

Jam Kerja, PNS di Riau Masih Banyak Keluyuran

Sejumlah pegawai negeri nongkrong saat jam kerja di sebuah kantin di Jalan Diponegoro ujung. (SegmenNews.com/tribun pekanbaru)
Sejumlah pegawai negeri nongkrong saat jam kerja di sebuah kantin di Jalan Diponegoro ujung. (SegmenNews.com/tribun pekanbaru)

Pekanbaru (SegmenNews.com) – Ternyata disiplin pegawai negeri sipil di Provinsi Riau belum berjalan maksimal. Keluyuran di jam-jam kerja di kantin sambil menikmati hidangan kopi merupakan rutinitas Pegawai Negeri ini setiap harinya.

Tidak ada pengawasan yang tegas dari Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah. Bahkan ada juga sebagian pegawai ini nongkrong di luar kantor hingga jam kerja selesai sore.

Seperti pemandangan di sebuah kantin di Jalan Diponegoro ujung, tepatnya di samping Kantor Dinas Peternakan Provinsi Riau. Hampir setiap hari terlihat puluhan pegawai berseragam lengkap itu hanya nongkrong merokok sambil menikmati kopi di kantin itu.

Padahal, semestinya di jam kerja PNS ini harus berada dalam ruangan bekerja dan melayani masyarakat. Akankah kebiasaan buruk PNS ini akan terus berlanjut tanpa pengawasan.

Mungkin jawabannya ada pada pemimpin baru Riau nanti Annas Ma’amun. Mudah-mudahan Annas Ma’amun bisa memberikan efek jera terhadap pegawai negeri yang keluyuran itu.***

Red: son
sumber:Tribun Pekanbaru

Bupati Achmad Serahkan Bantuan Kemensos Kepada Disnaker

Drs H Achmad Msi
Drs H Achmad Msi

Rokan Hulu (SegmenNews.com)- Bupati Rokan Hulu, Drs H Achmad Msu menyerahkan bantuan Kementrian Sosial (Kemensos) untuk Dinas Sosial Tenaga Kerja dan transmigrasi kabupaten Rokan Hulu, Senin (17/2/14) di sempena hari kesadaran Nasional yang digelar dihalaman kantor Bupati.

Bantuan tersebut berupa 1 unit mobil operasional lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (lk 3 ) dimana bantuan mobil tersebut diberikan kepada 60 kabupaten dan kota se Indonesia dan hanya kabupaten Rokan Hulu dan kabupaten Bengkalis yang dapat menerima bantuan tersebut di provinsi Riau.

Bupati juga menyerahkan bantuan 1 unit mobil truk untuk penanggulangan bencana untuk Provinsi Riau yang menerima bantuan ini juga hanya 2 kabupaten yakni Rokan Hulu dan Kampar.

Ikut diserahkan juga bantuan program keluarga harapan dimana bantuan tersbut diberikan kepada keluarga miskin, sangat miskin sebanyak 5.093 KK, untuk 15 kecamatan kecuali Pendalian IV Koto, adapun jumlah bantuan antara Rp 675.000 hingga 2.800.000 per kk selama 1 tahun.

“Mobil bantuan LK3 tersebut dapat digunakan sebagai tempat konsultasi keliling terhadap rumah tangga yang bermasalah dan anak-anak telantar yang membutuhkan konsultasi, dan diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan jasa tersebut dengan baik sehingga persoalan rumah tangga yang terjadi di kabupaten Rokan Hulu ini dapat terselesaikan dengan baik,” sampai BUpati.***(r4n/adv/hum)

Disertai Ledakan, Kilang Minyak Pertamina RU II Dumai Terbakar

kilang

 

Dumai (SegmenNews.com) – Kebakaran terjadi di kilang minyak Pertamina RU II Dumai memicu kemarahan warga di sekitar lokasi. Pasalnya, kebakaran yang disertai ledakan membuat warga sekitar lokasi ketakutan.

Kini, api sudah berhasil dipadamkan, namun warga sekitar masih bertahan di lokasi dan meminta pertanggungjawaban Pertamina. Warga masih takut

Warga yang marah tersebut umumnya berada di sekita lokasi kilang. Lokasi kilang memang berdekatan dengan pemukiman warga dan hanya dibatasi beton.

“Pindahkan kami dari sini,” Kata Zulkarnaen, salah seorang warga saat aksi di depan pintu masuk kilang Pertamina Dumai.

“Cubo miko rasokan, gantian kito tinggal di perumahaan Bukit Datuk. Bapak-bapak tinggal di tempat kami sekarang ini,” ujar Udin berang dilansir bengkalisone. (pog/zie)

Wako Pekanbaru: Kualitas Udara Tidak Sehat

ispuPekanbaru (SegmenNews.com) – Walikota Pekanbaru, Firdaus MT menegaskan kualitas udara saat ini tidak sehat. Pasalnya, kabut asap mengandung partikel masih bersebaran di udara akibat pembakaran lahan.

Walikota mengimbau warga Pekanbaru, terutama yang mempunyai anak balita agar tak banyak beraktivitas di luar rumah.

“Kalau udara tetap seperti ini, maka siswa akan tetap diliburkan. Kita tidak mau ambil resiko,” kata Walikota dilansir tribun Pekanbaru
.

Dia menilai, perpanjangan masa libur sekolah dapat dilakukan jika kondisi udara mengganggu kesehatan.

Pihaknya telah melakukan antisipatif dengan meliburkan siswa TK, PAUD hingga kelas 1, 2 dan 3 SD. ***

red: son

Pasca Bentrok PETI, Brimob Polda Riau Jaga Ketat Lokasi di Kuansing

ilustrasi
ilustrasi

Teluk kuantan (SegmenNews.com)- Situasi di lokasi bentrok penertiban Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di areal perkebunan PT Duta Palma Nusantara (DPN) di Kecamatan Benai, Kuansing pada Sabtu (15/2/2014) terlihat aman.

Sekitar 30 personil Brimob Polda Riau diturunkan ke Kuansing masih berjaga-jaga di kawasan tersebut.

“Kita berharap situasi tetap aman dan terkendali serta kondusif seperti sedia kala,” ujar Kapolres Kuansing melalui Kasubag Humas Polres Kuansing, Ipda Musabi, Sabtu (15/2/2014).

Pantauan wartawan, sejumlah massa tampak masih berkumpul di persimpangan jalan poros PT RAPP, terutama di pertigaan menuju areal PT DPN.

Sebelumnya, pada penertiban PETI di Kecamatan Benai, Kabupaten Kuansing ricuh. Akibatnya, sebanyak 22 orang pelaku diamankan dan 3 orang dikabarkan tertembak.

Kericuhan terjadi setelah tim Polda Riau diback up Polres Kuansing mengamankan sejumlah orang dan peralatan mencari emas (dompeng) usai melakukan penertiban PETI di kawasan areal perkebunan PT Duta Palma Nusantara (DPN) di Kecamatan Benai, Jumat (14/2/2014).

Usai mengamankan sejumlah tersangka dan barang bukti, dari informasi yang dirangkum dari berbagai sumber tersangka dan barang bukti lalu dibawa ke dekat kantor PKS PT DPN.

Namun upaya mengamankan tersangka dan barang bukti dari mendapat reaksi dari kalangan penambang lainnya yang memang cukup banyak di sekitarnya serta warga lain. Masssa terus merangsek maju ke kawasan PKS PT DPN Jumat malam hingga diperkirakan mencapai 700 orang.

Menjelang pukul 21.00 WIB massa yang datang semakin banyak dan menuntut supaya rekan-rekan mereka dibebaskan. Alasannya, karena merasa senasib dan sepenanggungan, dan juga selama ini sama mencari nafkah di lapangan.

Sejumlah perwakilan massa dan petugas sempat berdialog aparat, namun situasi terus memanas karena massa terus mendesak rekan-rekan mereka. Aksi lempar-lemparan terjadi yang membuat petugas melakukan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.

Dikabarkaan saat itu terdapat 3 orang warga yang tertembak peluru karet saat aparat hendak membubarkan massa.***(zul/kn)

Kejasama Kota Kembar, Delegasi Malaysia Kunjungi Siak

Bupati Siak, H Syamsuar menyerahkan cenderamata kepada ketua delegasi negeri Trengganu Datuk H Mohd Jiddin Bin Shafee
Bupati Siak, H Syamsuar menyerahkan cenderamata kepada ketua delegasi negeri Trengganu Datuk H Mohd Jiddin Bin Shafee

Siak (SegmenNews.com)– Dalam rangka rencana kerjasama kota kembar (sister city, red) antara Kabupaten Siak (provinsi Riau) dan Daerah Dungun (negeri Terengganu) kerjasama ini di antaranya akan meliputi sektor ekonomi budaya dan industri. Delegasi Kerajaan Negeri Terengganu Malaysia melakukan kunjungan kerja ke kabupaten Siak.

Rombongan delegasi kerajaan negeri Terengganu Malaysia tiba di Siak, Kamis (13/2/2014) pada pukul 20.30 WIB. Rombongan disambut dengan jamuan makan malam di kediaman Bupati Siak.

Acara kunjungan kerja dalam rangka kerjasama kota kembar ini, diawali dengan menampilkan profil kabupaten Siak. Ketua delegasi kerajaan Terengganu Datuk H Muhammad Jiddin Bin Shafee, dalam sambutannya menyebutkan tujuan kunjungan kerja ini di antaranya melakukan kerjasama di bidang ekonomi dan budaya. Kabupaten Siak dan Kerajaan Terengganu juga memiliki latar belakang sejarah yang masih berhubungan.

Acara diselingi dengan penyerahan surat resmi kunjungan dari delegasi Kerajaan Terengganu ke kabupaten Siak, dialog, penyerahan cendramata, dan foto bersama. Dijadwalkan, rombongan delegasi kerajaan negeri Terengganu ini akan berada di kabupaten Siak selama tiga hari.***(rin/adv/hum)

Kisah Haru, Usman-Harun dan Aksi Bom Singapura

 

Usman-Harun
Usman-Harun

SegmenNews.com– Air laut begitu tenang lewat tengah malam itu, 8 Maret 1965. Perlahan, tiga lelaki itu mendayung perahu. Gerak perahu itu senyap mengiris ombak, begitulah mereka menyusup menembus perbatasan Singapura. Usman, Harun, dan Gani. Ketiganya merapat di sebuah pantai. Sebuah misi rahasia segera dimulai.

Menyaru sebagai pedagang, ketiga lelaki itu masuk ke kota Singapura. Mereka mengintai sejumlah titik penting di negara-kota itu. Ketiganya bukan tentara biasa. Mereka anggota KKO, Korps Komando Operasi, yang kini menjadi Korps Marinir TNI Angkatan Laut.

Rupanya sudah berulangkali ketiganya masuk ke Singapura. Mereka biasa berangkat dari, dan lalu kembali ke Pulau Sambu, di dekat Batam, Kepulauan Riau. Di sana tempat induk pasukan KKO berpangkal. KKO adalah salah satu pasukan elite masa itu yang bergabung dalam Operasi Dwikora.

Sehari setelah merapat, ketiganya menetapkan sasaran operasi: MacDonald House, gedung berlantai 10 di Orchard Road yang menjadi kantor Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC). Gedung itu berada di pusat keramaian Singapura. Mereka sepakat menjalankan aksi itu esoknya.

Hari H, 10 Maret 1965. Siang itu, hujan turun amat deras. Langit mendung, dan sesekali petir menggelegar. Tapi seperti biasa Singapura tetap sibuk, dan ketiga lelaki itu dengan mudah masuk ke MacDonald House. Mereka menyelinap ke sisi dalam gedung itu, lalu meletakkan bom seberat 12,5 kilogram di dekat lift.

Tujuh menit setelah bank tutup, tepat pukul 15.07 waktu setempat, bom meledak.

Pintu lift itu robek. Salah satu dinding MacDonald House roboh. Reruntuhan tembok menimpa 150 karyawan bank, yang sedang merapikan pekerjaan mereka. Meja, kursi, dan mesin ketik terpental hingga ke jalan.

Tiga orang tewas, dan 33 lainnya terluka. Puluhan mobil rusak berat. Kaca-kaca jendela gedung sepanjang Orchard Road hancur dalam radius 100 meter dari MacDonald House.

Karyawan bank yang selamat mengira letusan itu adalah suara petir yang menghajar gedung. Mereka kaget, begitu tahu yang meledak itu adalah bom. Singapura gempar. Bahaya mengancam negeri kecil di ujung semenanjung itu.

Pasukan khusus Singapura, yang dibantu Australia, pun disebar untuk mencari pelaku.

Sial bagi Usman, Harun, dan Gani. Perbatasan semua dijaga rapat oleh pasukan Singapura. Mereka sulit kabur. Agar mudah menerobos penjagaan, ketiganya memutuskan berpisah. Usman bersama Harun, sedangkan Gani sendirian. Tapi dalam perjalanan kembali ke Pulau Sambu, Usman dan Harun dicegat patroli Singapura. Motorboat yang mereka tumpangi macet. Padahal perbatasan laut Singapura masih jauh.

Bagi Singapura, meski hampir 50 tahun lampau, aksi ketiga tentara Indonesia itu tak mudah dilupakan. Itu sebabnya, begitu nama “Usman-Harun” akan dipakai sebagai nama kapal perang baru Republik Indonesia, petinggi negeri itu meradang. Kapal itu segera berlayar dari pabriknya di Inggris, dan berlabuh Indonesia akhir 2014 nanti.

Suara paling keras terdengar dari Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam. Dia menuding Indonesia tak peka terhadap perasaan warga Singapura. “Dengan menyematkan nama Usman-Harun di sebuah kapal perang, pesan dan gaung dari nama itu akan terbawa ke manapun kapal itu berlayar. Beda halnya jika nama itu disematkan di sebuah bangunan di Indonesia,” kata dia.

Ke tiang gantungan

Pengadilan Tinggi Singapura, 20 Oktober 1965. Hakim akhirnya mengetukkan palu: vonis mati untuk Usman dan Harun. Mereka didakwa melanggar wilayah Singapura, membunuh tiga orang, dan melakukan pengeboman.

Usman dan Harun membela diri. Mereka menyatakan pengeboman itu bukan atas kehendak pribadi, tapi karena situasi perang terkait Konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Adalah Presiden Soekarno yang berang dengan penggabungan Federasi Malaya, Singapura, Brunei, Serawak, dan Sabah ke dalam satu Malaysia. Padahal ada Perjanjian Manila yang diteken pada 31 Juli 1963 oleh Federasi Malaya, Republik Indonesia, dan Republik Filipina.

Ketiga negara sepakat menghormati keinginan rakyat Sabah dan Serawak menentukan nasib sendiri melalui pemilu bebas tanpa paksaan. Tapi proyek penyatuan Malaysia itu malah mendapat restu Inggris. Soekarno pun berang. Ia menuduh Malaysia sebagai boneka Inggris, yang mengancam keamanan Indonesia.

Atas dasar itu, Usman dan Harun minta diperlakukan sebagai tawanan perang. Permintaan itu ditolak hakim Pengadilan Tinggi Singapura. Alasannya, Usman-Harun tak memakai seragam militer ketika tertangkap.

Upaya banding ke Pengadilan Federal Malaysia juga ditolak. Banding selanjutnya sampai harus diajukan di London karena Singapura adalah anggota Negara Persemakmuran Inggris. Tapi upaya itu pun berujung gagal.

Upaya diplomasi Indonesia, yang berliku dan makan waktu itu, akhirnya kandas. Presiden Singapura menolak grasi kedua marinir itu. Lobi Presiden Soeharto ke Singapura lewat Perdana Menteri Malaysia tak digubris. Bahkan, permintaan Soeharto agar eksekusi hukuman gantung ditunda sepekan ditolak. Padahal Soeharto ingin Usman-Harun bertemu orangtua dan kerabat mereka sebelum maut menjemput.

Pemerintah RI seperti membentur tembok. Usman dan Harun tak bisa lagi diselamatkan. Soeharto lalu mengutus Brigjen TNI Tjokropranolo bertemu dua prajurit yang berani itu. Ia tiba di penjara Changi, 16 Oktober 1968 –persis sehari sebelum eksekusi hukuman gantung Usman-Harun.

Ditemui seorang jenderal utusan presiden, kedua marinir itu tegak bak batu karang. Mereka bersikap sebagai militer: memberi hormat, dan menyampaikan laporan lengkap aksi mereka di Singapura. Menyimak laporan tanpa rasa gentar itu, Brigjen Tjokropanolo tak dapat menahan haru.

Tjokropranolo lalu menyampaikan pesan Presiden Soeharto, bahwa keduanya diberi gelar Pahlawan Nasional. Seluruh rakyat Indonesia menaruh hormat atas jasa-jasa mereka. Permintaan Usman dan Harun untuk dimakamkan berdampingan di tanah air pun dikabulkan Soeharto.

Esoknya, 17 Oktober 1968, kedua prajurit itu dibangunkan oleh petugas penjara. Usai salat, dengan tangan terborgol mereka dibawa ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam kondisi terbius, dokter lalu memotong urat nadi mereka hingga keduanya lumpuh. Setelah itu, Usman-Harun dibawa ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 pagi waktu Singapura, tubuh kedua lelaki itu tergantung lunglai di tiang itu. Hidup keduanya telah tamat.

Di Indonesia, hari itu, bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang. Dua jenazah itu tiba di tanah air dengan peti berselubung bendera Merah Putih. Sepanjang Kemayoran dan Jalan Merdeka Barat penuh lautan manusia menyambut sang hero.

Esoknya, usai salat Jumat, keduanya dimakamkan. Tembakan salvo pun bersipongang. Pemerintah memberi tanda kehormatan Bintang Sakti. Keduanya diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Radio buat ibu

Sebelum menyusup ke Singapura, Usman sempat pulang ke rumahnya di Purbalingga, Jawa Tengah. Saat itu, anak kesepuluh dari 11 bersaudara itu membelikan radio transistor untuk ibundanya, Siti Rokiyah. “Bunda, lewat radio ini, kabar apapun di luar sana bisa didengar,” kata dia sumringah.

Ironis, radio itu pula yang mengabarkan kematian Usman kepada keluarganya. Menjelang eksekusi Usman, para saudaranya bergeming di dekat radio. Mereka menyimak berita dengan tegang. Tak satupun berani memberitahukan kepada sang ibu, bahwa Usman akan segera digantung.

Rokiyah sempat heran melihat anak-anaknya tahan berjam-jam di dekat radio. “Ada apa ini, kok semua pada tegang?” kata Rokiyah kepada mereka. Setelah saling berbisik, akhirnya anak kesembilan, Siti Rodiyah, mengabarkan berita buruk itu. Air mata Rokiyah pun jatuh. Putranya yang masih berusia 25 tahun itu tak bisa diselamatkan lagi.

Rodiyah, sang adik, pun tak tahan dirundung sedih. Pada pagi yang muram itu, ia pergi ke belakang rumah, lalu berwudu untuk salat subuh. Ada pengalaman yang diingatnya kala itu. Usai wudu, Rodiyah mendongak ke atas pohon kelapa. Ada gagak hitam berkoak-koak. Hati perempuan itu mendadak seperti bolong. Persis pada menit itu, Usman dieksekusi di Singapura.

Usman hidup dalam kenangan Rodiyah, sebagai pemuda cilik yang bernama aslinya, Janatin bin Haji Muhammad Ali. Ia adalah idola di kampung itu. Ia kerap menjadi pemain utama dalam pertandingan sepakbola antarkampung. Hobi lainnya: main perang-perangan.

Dia memang datang dari keluarga tentara. Tiga kakaknya menjadi prajurit. Itu sebabnya, Usman kecil betah mendengarkan cerita kakak sulungnya, Husni, saat berperang di medan tempur. Husni adalah seorang letnan TNI Angkatan Darat.

Husni suka berkisah tentang pasukan Gurkha, pasukan khusus Inggris asal pegunungan Himalaya yang amat tangguh. Ironisnya, ia kelak tewas di tangan pasukan Sekutu, saat bergerilya di masa perang kemerdekaan.

Sejak itu Usman seperti menyimpan dendam. Saat pamit hendak ke Serawak di awal masa konfrontasi itu, ia berkata kepada ibunya: “Aku ke Serawak agar bisa bertemu tentara Gurkha,” kata dia. Ibunya meminta agar ia tak usah ke Serawak, cukup tinggal di markasnya di Surabaya. Tapi, keluarga paham, ada bayang-bayang Husni, dan dendamnya pada tentara sekutu.

Sejak ditangkap sampai digantung Singapura, Usman sempat mengirim sepuluh pucuk surat kepada keluarganya. Dalam surat itu, Usman berpesan kepada mereka untuk merelakan dia. Semua yang ia lakukan, tulis Usman, semata-mata tugas negara.

Ia juga meminta keluarganya tidak meminta balas jasa kepada pemerintah RI. Meski begitu, pemerintah memberikan santunan Rp100 ribu tiap bulannya kepada ibunda Usman sampai Rokiyah meninggal tahun 1985.

Setiap tahun, keluarga Usman mendapat kehormatan diundang ke Jakarta menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Korps Marinir. Selain itu, rumah sederhana Usman di Purbalingga dijadikan museum oleh TNI. Di dalamnya, tersimpan barang-barang Usman seperti foto-foto dan surat terakhir dia.

Harun, anak Romusha

Harun bernama asli Tohir bin Said adalah anak seorang romusha –orang Indonesia yang dipekerjakan paksa pada masa penjajahan Jepang. Ketika Harun masih kecil, ayahnya dibawa pergi tentara Jepang. Ia tak pernah kembali.

Harun seorang anak pemberani dan bandel. Dia sering pergi ke hutan sendirian. Kadang dia tidur di kuburan dekat rumahnya. Selama bersekolah, Harun kerap membolos. Ia optimistis akan pandai dengan sendirinya meski jarang masuk sekolah.

Kendati malas sekolah, Harun amat rajin membantu ibunya bertani di sawah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka di Desa Ciponggo, Pulau Bawean, Gresik. Harun sadar betul keluarganya miskin. Sambil bersekolah, dia bekerja sebagai pelayan di kapal dagang.

Pekerjaannya itu membuat dia bisa tinggal berhari-hari di Pelabuhan Singapura. Ia juga bergaul dengan banyak orang. Tak heran, Harun menguasai tiga bahasa asing sekaligus –Inggris, China, dan Belanda.

Keluarga Harun tak pernah tahu ia bergabung dengan TNI AL. Mereka baru sadar setelah Harun dipenjara Singapura. Melalui kerabat di Singapura, keluarga diberi tahu tak ada rasa takut di wajah Harun meski tahu akan digantung.

Sepeninggal Harun, pemerintah memberikan perhatian kepada keluarganya. Aswiyani, ibundanya Harun, misalnya diberangkatkan haji gratis ke Mekkah oleh pemerintah. Ia juga diberi rumah di Jakarta. Tapi rumah itu akhirnya dijual karena kebutuhan ekonomi. Bantuan uang, dan juga beras, itu terus mengalir setiap bulan, sampai Aswiyani wafat pada 1996.

Namun demikian, Korps Marinir TNI AL juga masih tetap memperhatikan keluarga Harun. Mereka, misalnya, membuatkan bilik kamar mandi, tempat cuci, dan kakus di rumah keluarga Harun. Juga membelikan televisi buat keluarga itu.

Bagaimanapun, Harun telah melakukan tugasnya dengan kesadaran patriotik yang tinggi. Dalam sepucuk surat dikirim Harun dari penjara Singapura kepada ibunya, misalnya, ia menulis: “Ibundaku tersayang, Ananda bukan perompak, bukan penjahat, bukan penyamun. Ananda melakukan ini demi tugas bangsa untuk membela negara Republik Indonesia, jiwa dan raga.”

Bagi Indonesia, Harun dan Usman, adalah pahlawan. Tentu saja, mungkin tidak begitu bagi Singapura.***

Red: san
sumber: viva

Sumbar Ngaku Terima Kiriman Kabut Asap dari Riau

Kabut asap menyelimuti Sumbar
Kabut asap menyelimuti Sumbar

SegmenNews.com – Sejak beberapa hari terakhir, langit Provinsi Sumatera Barat terlihat berkabut asap. Asap yang berasal dari Riau itu mengurangi jarak pandang menjadi 2.500 meter saja.

Hal itu disampaikan Budi Imam, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Padang. “Kita tidak menyebut titik api, tapi titik panas. Dari pantauan satelit kita, kemarin terdapat 520 titik panas. Sedangkan malam tadi, mencapai 107 titik. Hasil siang belum keluar,” katanya kepada VIVAnews, Jumat (14/2/2014).

Data 520 titik itu terbagi ke beberapa daerah. Titik panas terbanyak itu terdapat di Provinsi Riau 283 titik. Kemudian di Sumatera Utara 106 titik, Aceh 116 titik, Sumbar sendiri 11 titik dan Kepulauan Riau 7 titik.

Untuk data tadi malam, dari 107 titik yang terdeteksi, Riau juga menyumbang terbanyak, 50 titik. Kemudian disusul Aceh 30 titik dan Sumatera Utara 20 titik.

“Malam hari titik panas berkurang dari pada siang. Pergerakan juga terlihat minim karena aktivitas masyarakat di malam hari berhenti,” ujar Budi.

Menurut Budi, asap dari Riau masuk ke Sumbar karena angin Timur Laut bertiup ke Selatan. Sehingga otomatis melewati Sumbar. Daerah yang paling berdampak adalah daerah di perbatasan Sumbar dengan Riau. Misalnya Kota Payakumbuh, Limapuluh Kota, Tanah Datar, Bukittinggi bahkan Kota Padang.

Asap ini membuat jarak pandang berkurang menjadi 2.500 meter. Kabut asap ini diduga akan terus bertambah. “Karena potensinya masih tinggi melihat kondisi cuaca di Riau. Riau sepertinya belum akan ada hujan. Sehingga, potensi api masih tinggi,” ujarnya.

Beberapa orang masyarakat Kota Padang yang kami temui juga heran dengan kondisi ini. Eko, 36, seorang pegawai pemerintahan di Kota Padang mengaku telah merasakan kondisi ini sejak tiga hari terakhir.

“Saya kaget saja melihatnya. Hari cerah, tapi kok langit berwarna hitam seperti ingin hujan saja. Kemudian Bukit Barisan yang panjang di belakang kampung juga tidak terlihat. Ternyata asap. Coba bayangkan, berapa besar apinya ini, sehingga asapnya bisa sampai menutupi langit Kota Padang,” katanya.***

red: son
Sumber : viva

Kabut Asap, Empat Sekolah di Pelalawan Diliburkan

ilustrasi
ilustrasi

Pangkalan kerinci (SegmenNews.com) – Akibat kabut asap yang semakin tebal, sehingga sekolah di empat kecamatan di Kabupaten Pelalawan diliburkan.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Pelalawan MD Rizal, ketika dikonfirmasi kemarin.

Menurutnya, kondisi kabut asap yang makin tebal, seperti pada hari ini Jumat, maka sekolah di empat kecamatan diliburkan hingga Senin besok (17/2/2014).

“Kita terus pantau kondisi kabut asap di Pelalawan. Kalau sudah menganggu proses belajar mengajar maka kita liburkan sekolah di kecamatan tersebut,” tegasnya.

Sekarang yang sekolah diliburkan itu berada di Kecamatan Pelalawan, Teluk Meranti, Langgam dan Ukui.

Sementara Kabid Kurikulum Disdik Pelalawan Salbiah mengaku dirinya sudah menerima sudah menerima laporan terkait gangguan kabut asap dari semua UPTD di setiap kecamatan di Kabupaten Pelalawan.

“Dari informasi semua UPTD Disdik se-Pelalawan itu, maka sekolah di empat kecamatan sudah diliburkan,” jelasnya.***(fin)

 

Pasca Gunung Kelud Meletus, Kota Kediri Masih Lumpuh

wajah seorang pengendara motor di Yogyakarta terkena abu dari Gunung Kelud, Jumat (14/2/2014). (REUTERS/Dwi Oblo)
wajah seorang pengendara motor di Yogyakarta terkena abu dari Gunung Kelud, Jumat (14/2/2014). (REUTERS/Dwi Oblo)

SegmenNews.com- Perekonomian Kota Kediri, Jawa Timur, masih lumpuh setelah dipenuhi abu vulkanik Gunung Kelud. Ini merupakan hari kedua setelah Kamis malam gunung itu meletus.

Pantauan antv di lokasi, Sabtu 15 Februari 2014, sejumlah pusat perbelanjaan dan toko-toko masih tutup. Suasana juga masih sepi.

Di pusat kota, di Jalan Dhoho, misalnya, pertokoan di sepanjang jalan ini masih sepi. Para pedagang masih belum memperlihatkan aktivitasnya. Selain toko, pusat perbelanjaan Kediri Mall juga masih tutup.

Sejumlah jalan di Kota Kediri juga masih lengang. Hanya beberapa kendaraan roda dua dan mobil pribadi saja yang lewat.

Warga Kota Kediri masih memilih bertahan di rumah karena jalanan masih dipenuhi debu yang beterbangan.

Di sejumlah jalanan juga masih terlihat gundukan pasir yang belum disingkirkan. Hanya beberapa petugas kebersihan saja yang mulai membersihkan.***

Red: yudi
sumber: viva