Beranda blog Halaman 3026

Besok, Pimpinan KPK Bertemu Kapolri

Kpc

JAKARTA (Segmennews.com)—  Unsur pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijadwalkan bertemu dengan Kepala Kepolisian RI (Polri), pada Senin (8/10/2012). Kedua pimpinan itu akan membahas polemik yang terjadi di antara kedua institusi.

Setelah pertemuan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memberi pernyataan kepada masyarakat. Hal ini disampaikan Menteri Sekretariat Negara Sudi Silalahi dalam jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Minggu (7/10/2012).

Menurut Sudi, pertemuan pimpinan KPK dengan kepolisian awalnya akan digelar hari ini. Namun, rencana itu batal karena sejumlah unsur pimpinan KPK sedang berada di luar kota.

“Hari ini, Presiden mendapat laporan ternyata memang pertemuan antara Kapolri dan pimpinan KPK belum bisa dilakukan. Mereka sudah berjanji pertemuan KPK dengan Polri dilaksanakan besok,” katanya.

Sudi menambahkan, Presiden SBY sebenarnya tidak tinggal diam menyaksikan kisruh antara KPK dan Polri yang berujung pada upaya penangkapan seorang penyidik KPK oleh Kepolisian Daerah Bengkulu.

Presiden, masih menurut Sudi, telah mendengar permintaan masyarakat agar mengambil alih masalah ini. Namun, Presiden SBY ingin memberi kesempatan kepada KPK dan Polri untuk mengatasi masalahnya sendiri sesuai undang-undang dan nota kesepahaman (MoU) yang sudah disepakati keduanya.

“Namun, berhubung perkembangan situasi sudah tidak baik, dengan banyak yang memanipulasi, Presiden akan segera mengambi alih dan menyampaikan penjelasan kepada rakyat segera setelah pertemuan KPK-Polri dilaksanakan,” ungkap Sudi.

Pernyataan Presiden ini akan dikeluarkan pada Senin atau Selasa (9/10/2012) siang.

Seperti diketahui, sejak KPK mengintensifkan penanganan kasus dugaan korupsi pengadaan alat simulasi mengemudi di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, hubungan KPK dan Polri menjadi renggang.

Saat KPK memutuskan untuk menangani kasus Korlantas, Polri ikut mengusut kasus yang sama dengan tersangka yang juga sama.

Perbedaannya, polisi tidak menjadikan mantan Kepala Korlantas Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka seperti yang dilakukan KPK.

Belum lagi tuntas masalah perebutan kasus itu, kepolisian tiba-tiba menarik 20 penyidiknya yang tengah bertugas di KPK.

Ketegangan hubungan KPK-Polri semakin meruncing setelah pada Jumat (5/10/2012) malam anggota Polda Bengkulu mendatangi Gedung KPK untuk menangkap penyidik KPK, Novel Baswedan.

Menurut kepolisian, Novel diduga melakukan penganiayaan berat saat bertugas di Kepolisian Resor Bengkulu pada 2004. Atas upaya penangkapan ini, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menganggapnya sebagai bentuk kriminalisasi anggota KPK. (snc/Kompas.com)

Kontras dan Korban Kekerasan Polisi Dukung KPK

photo (kpc)

JAKARTA (Segmennews.com)- Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) bersama para korban tindak kekerasan polisi mendatangi Gedung KPK di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka datang untuk memberikan dukungan kepada KPK terkait upaya polisi menangkap Novel Baswedan yang diangkap merupakan tindak kriminalisasi.

M Daud, Staf Divisi Pemantauan dan Inpunitas Kontras mengatakan, upaya penangkapan Novel oleh aparat Polda Bengkulu di KPK adalah upaya kriminalisasi oleh kepolisian. “Tujuan kami adalah mendukung KPK. Karena ini merupakan tindak kriminalisasi. Polisi mau menegakkan hukum tapi malah melawan hukum itu sendiri,” kata Daud kepada wartawan di Gedung KPK, Minggu (7/10/2012).

Upaya penangkapan Novel menurutnya merupakan bentuk sikap arogansi kepolisian. Upaya tersebut dikatakanya sebagai tindak sistematis untuk melemahkan penyidikan korupsi oleh KPK. “Kami lihat banyak kasus-kasus lain yang tidak dibongkar dan mengendap oleh polisi, tetapi justru saudara Novel yang menyidik kasus korupsi mau ditangkap dengan tuduhan kasus yang sudah delapan tahun,” ujarnya.

Dia mengatakan, Polri tidak transparan pada kasus yang terjadi pada Novel. Pasalnya, kasus di Bengkulu diungkap setelah Novel berstatus penyidik KPK yang menangani dugaan korupsi di tubuh Korlantas. “Tidak ada alasan, kalau memang terdapat kasus (pada Novel), kenapa dia malah direkomendasikan jadi penyidik KPK,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kompol Novel Baswedan  dituduh terlibat kasus penganiayaan berat saat bertugas di Bengkulu tahun 2004. Ia adalah penyidik yang tengah memeriksa tersangka kasus dugaan korupsi simulator ujian surat izin mengemudi (SIM), Inspektur Jenderal Djoko Susilo. (snc/kompas.com)

Malam ini, Boediono Buka Peparnas XIV Riau

Ketua Sub PB Peparnas XIV Riau, Emrizal Pakis

Pekanbaru (Segmennews.com)- Malam ini, Minggu (7/10) pukul 19:00 Wib, Wakil Presiden, Boediono akan membuka Iven Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XIV di Stadion Kaharuddin Nasution Rumbai, Pekanbaru. Pembukaan akan disemarakkan dengan parade budaya, dan pawai dari 33 Provinsi.

Selain penampilan budaya di rencanakan juga akan dimeriahkan oleh band papan atas ST 12.

Peparnas bakal diikuti sekitar 1.422 paralimpian dan 650 official yang akan mengikuti 11 cabang olahraga. Panitia Besar Peparnas XIV 2012 Riau memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan secara gratis pembukaan pekan olahraga ini.

Dikatakan Ketua Sub PB Peparnas XIV Riau, Emrizal Pakis kemaren, berharap setiap atlet maupun official yang hadir tetap menguatkan semangat dan sportifitas dalam bertanding walau dalam keterbatasan (fisik).

Peparnas XIV Riau yang akan dilaksanakan pada 7 – 13 Oktober 2012 ini menelan dana APBD Riau sekitar Rp 50 Miliar dan APBN senilai 5 miliar. (Deni)

25 Klub Motor Berikrar, Geng Motor Tiarap, Kota Pekanbaru Sepi

Pekanbaru (segmennews.com)-Sedikitnya 25 klub motor yang ada di Kota Pekanbaru mengadakan “ikrar
bersama” berjanji akan tertib berlalu lintas di jalan raya dan tak akan melakukan keonaran
berdarah-darah di jalan raya.

Acara ikrar ini diadakan bersama Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar S MM didampingi Kasat Lantas Kompol Muhammad Mustofa, di Jalan Gajah Mada Pekanbaru Sabtu malam kemarin (6/10).

Sementara lima geng motor liar yang ada di Kota Pekanbaru tak nampak hadir perwakilannya di acara “ikrar bersama” ini karena mereka “tiarap” alias ciut nyalinya melarikan diri entah ke
mana para anggotanya karena sedang diburu pihak aparat sampai saat ini.

Dalam pemantauan malam tadi dalam acara “ikrar bersama” ini seluruh klub
motor yang ada di Kota Pekanbaru berjanji akan tertib di jalan raya dan memberi contoh yang
baik kepada orang lain. Masing-masing ketua klub motor membubuhkan tanda tangan ikrar
bersama.

Sementara Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar S MM dalam arahannya kepada para remaja, pemuda yang tergabung dalam klub motor untuk menegakkan disiplin tertib berlalu lintas di jalan raya. Adang juga meminta para remaja, pemuda tidak melakukan lagi tindakan berdarah-darah di jalan raya. Jika masih ada lagi kejadian seperti yang sudah lalu, maka aparat polisi akan mengambil tindakan tegas. “Kejadian yang sudah-sudah Saya minta itu yang terakhir,” tegas Adang.

Sabtu malam tadi (6/10) hingga Ahad dinihari (7/10) aparat intelijen dan Buser melancarkan
operasi sejak senja hingga dinihari. Namun para geng motor tak terlihat batang hidungnya.

Jangankan nampak orangnya, suara cempreng keras knalpot geng motor yang biasanya merajai jalanan di Kota Pekanbaru saja malam tadi tak terdengar lagi. Jika masih ada dipastikan di “DOR” petugas. Tempat-tempat yang dijadikan arena balap liar selama ini seperti di Jalan Sudirman ujung dekat bandara SSK II Pekanbaru nampak sepi malam tadi. Demikian juga di Jalan Tuanku Tambusai ujung dekat terminal AKAP, Jalan Diponegoro yang biasanya berderet mobil anak pejabat parkir di situ, malam tadi tak nampak satupun parkir. Lalu lintas di sejumlah ruas jalan di Kota Pekanbaru malam tadi sepi.

Ke depannya menurut Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Adang Ginanjar pihaknya akan tetap menegakkan disiplin di jalan raya terhadap pengendara. Siapapun yang tak tertib akan
ditindak tegas. Apalagi bila terdengar knalpot keras dari pembalap liar yang mengganggu
kenyamanan di jalan raya juga akan disikat habis aparat.(snc/rpc)

Menanggapi Penangkapan Novel : Keluarga Korban Penembakan Minta Tak Dimanfaatkan

Bengkulu (segmennews.com)-Pihak Keluarga korban Mulyan Johani (28) yang tewas karena diduga ditembak anggota Sat Reskrim Polres Bengkulu  yang dipimpin Novel Baswedan, mengaku tidak pernah sekalipun melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Wakil pihak keluarga Johani, Antony Besmar (41), menyatakan bahwa pihaknya tak pernah mendesak agar kasus ini diusut tuntas.

Antony mengatakan, keluarganya justru mengharapkan pihak kepolisian tidak memanfaatkan kematian adiknya untuk kepentingan apapun. Meski demikian Antony mengakui, pihak keluarga tak keberatan jika kasus tersebut diungkap oleh pihak kepolisian.

“Jika kasus tersebut diusut kami bersedia. Tapi kami minta, keluarga kami jangan dimanfaatkan hanya untuk menjatuhkan Novel, ingat itu,” ujar Antony yang mengaku saat kejadian penembakan dirinya sedang tidak berada di Bengkulu.

Diungkapkannya, pada saat kejadian tersebut pihak keluarga telah menggelar rapat dan memutuskan menyerahkan semuanya ke pihak kepolisian. Namun hingga saat ini, pengusutan kasus tersebut belum terungkap dan masih mengambang.

“Kenapa baru sekarang kasus ini dibuka kembali? Ini juga menjadi pertanyaan kami, walaupun kami tetap menginginkan kasus ini tetap diusut” kata Antony yang menyebutkan bahwa Johani merupakan atlet binaraga dan pelatih fitnes.

Dipaparkannya, kronologis kejadian saat penangkapan adik Johani memang tak pernah jelas. “Keluar dari rumah rumah fisiknya sangat sehat, jam sebelas malam kami dikabari (Johani) meninggal dunia karena ditembak. Putusan dari Propam kami juga tidak mengetahuinya, ” ungkap Antony. (snc/jpnn)

Ini Dia Dalih Kepolisian Tentang Penangkapan Novel Baswedan

Jakarta (segmennews.com)-Kepala Badan Reserse kriminal Kepolisian Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Sutarman, keberatan jika upaya penangkapan terhadap Komisaris Novel Baswedan disebut sebagai kriminalisasi. Menurut dia, kasus penembakan terhadap pencuri sarang burung walet di Bengkulu yang diduga melibatkan Novel merupakan pelanggaran hukum.

“Jangan latah menyebut kriminalisasi. Itu artinya perbuatan yang tadinya bukan kriminal lalu dijadikan kriminal,” katanya saat memberi keterangan pers di Markas Besar Kepolisian RI, Sabtu, 6 Oktober 2012.

Kasus di Bengkulu yang diduga melibatkan Novel pada 2004 silam itu, menurut Sutarman, sudah jelas. “Diborgol, dibawa ke markas, lalu dibawa ke pantai dan ditembak sampai salah satu meninggal. Peristiwanya memang ada. Tapi siapa yang melakukan, sedang disidik,” kata dia.

Dikatakan Sutarman, penyelesaian kasus tersebut harus diselesaikan di pengadilan. Saat ini masyarakat maupun polisi tak bisa menentukan Novel bersalah atau tidak. “Selama proses penyidikan tidak boleh menentukan salah atau benar. Penyidik hanya mengumpulkan bukti-bukti,” tuturnya.

Dia juga menolak jika kasus tersebut dikaitkan dengan penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM yang sedang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Apalagi Novel adalah penyidik yang menangani kasus simulator dan menyidik Inspektur Jenderal Djoko Susilo saat diperiksa kemarin. “Ini murni penegakan hukum, jangan dibentur-benturkan,” kata dia.

Menurut dia, polisi sama sekali tak bermaksud mengerdilkan KPK. Ia menyebut kepolisian sebagai salah satu institusi yang membesarkan KPK. Contohnya dengan memberikan penyidik dan mengajak KPK menangkap Nazaruddin di Bogota. “Kalau terus dibawa seperti ini, kapan kita bekerja dan menangkap koruptor,” ucapnya.

Sutarman pun menambahkan, “Bisa dilihat rekayasa atau tidak. Yang membuktikan nanti pengadilan,” katanya. Di lain pihak, Direktur Reserse Kriminal Polda Bengkulu, Dedy Irawan, yang turut memberikan keterangan pers pun mengatakan kasus Novel telah ditindak melalui prosedur pelanggaran disiplin dan kode etik. Namun, kasus pidananya memang belum disentuh sejak 2004.

Ketika ditanya mengapa pengusutan kasus pidana itu baru dilakukan sekarang, Dedy hanya beralasan korban baru melakukan tuntutan. “Baru ada tuntutan sekitar sebulan lalu. Kami didesak terus,” katanya.

Oleh sebab itu, kemarin malam malam akhirnya Dedy bersama dua anggotanya dan empat personel Polda Metro Jaya mendatangi kantor KPK untuk berkoordinasi. Mereka membawa serta berita acara pemeriksaan, surat-surat, dan kelengkapan administrasi untuk menangkap Novel.

Peparnas Ajang Mengangkat Martabat Kaum Difabel

Pekanbaru (segmennews.com)-Wapres Boediono, besok Sabtu, 07 Oktober 2012,akan membuka secara resmi Event olahraga Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XIV/2012 di Riau. Selain ajang yang sepaket dengan pelaksanaan PON, ajang ini juga menjadi salah satu langkah guna mengangkat harkat dan martabat kaum  difabel (orang yang hidup dengan keterbatasan fisik) di tanah air.

Sebab, kaum difabel, seperti diketahui memiliki keterbatasan diluar manusia normal. Namun, jika melihat semangat juang mereka dalam menjalani sebuah pertandingan, merupakan suatu hal yang patut diacungi jempol. Sportif dan punya jiwa pejuang untuk memenangi pertandingan.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) National Paralympic Committe (NPC), Senny Marbun. Menurutnya, dengan adanya Peparnas, maka seluruh masyarakat Indonesia mengetahui bahwa kaum paralympian (atlet cacat, red) juga bisa muncul dengan sejumlah prestasi. Dan bisa menghidupi mereka dalam mata pencaharian yang layak

“Kita tau, Paralympian yang berprestasi, juga mendapat bonus. Mereka bisa membeli rumah, bisa memiliki pencaharian yang layak dan lainnya. Saya merasakan benar karena saya adalah mantan atlet,” ujarnya.

Namun usaha agar bisa berprestasi dan mengangkat harga serta martabat tersebut bukanlah hal yang gampang. Karena untuk bisa berprestasi haruslah memberikan pengorbanan dan usaha yang sangat keras.

“Jangan sekali-kali pernah puas berprestasi di Peparnas saja, karena perjalanan sebagai atlet itu panjang, ada tingkat Asia bahkan tingkat dunia. Dan bermimpilah untuk bisa menjadi yang terbaik,” sebut lelaki 57 tahun dengan rambut panjangnya.

Dikatakannya, penuh semangat sambil duduk diatas kursi rodanya, karena kedua kakinya tidak sempurna. Senny bangga harkat dan martabat kaum difabel bisa lebih baik dengan mampu berprestasi di bidang olahraga.

Karena, cerita Mantan atlet lempar cakram ini bahwa banyak yang memulai karir sebagai atlet berasal dari peminta-minta di jalanan. Namun karena mampu berprestasi bisa merubah nasib dan hidup lebih baik dan layak.

“Di Riau saja, bisa kita lihat, banyak PNS yang berawal dari Paralympian. Dan momen olahraga memang positif untuk mengangkat keterbatasan kaum difabel untuk berbuat lebih baik,” paparnya.

Senny juga memberikan apresiasi sangat besar kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau yang menyiapkan penyelenggaraan Peparnas dengan matang. Bahkan dikatakannya, pelaksanaan di Riau merupakan salah satu yang terbaik dari 13 kali perhelatan tersebut sebelumnya.

“Riau beruntung punya orang-orang yang mendukung penuh Peparnas ini. Saya memberikan acungan jempol untuk itu,” tutupnya.

Pada Peparnas Riau, ada penambahan Cabang Olahraga (Cabor) yang dipertandingkan. Dari sebelumnya sembilan. Kini menjadi 11 Cabor. Yakni Panahan, Voli duduk, Atletik, Renang, Tenis Kursi Roda, Futsal, Catur, Angkat Berat, Bulutangkis, Tenis Meja, dan Boling.

Pertandingan yang digelar 7-13 Oktober tersebut diikuti 1432 Paralympian. Dan diperkirakan sekitar 4.000 an orang akan memadati Pekanbaru selama sepekan pelaksanaan nantinya.(snc/jpnn)

Malam Ini Aparat Kepolisian di Pekanbaru Gelar Operasi Geng Motor

Pekanbaru (segmennews.com)-Sabtu malam ini (6/10) sekitar pukul 23.00 WIB jajaran Polresta
Pekanbaru dalam hal ini Sat Lantas Polresta Pekanbaru akan mengadakan operasi dan
aksi dalam acara “malam ikrar masyarakat” terkait masalah genk motor yang marak dan
meresahkan masyarakat Kota Pekanbaru akhir-akhir ini.

Kapolresta Pekanbaru melalui Kasat Lantas Kompol Mustofa dalam penjelasan singkatnya melalui SMS kepada pers Sabtu siang tadi (6/10) mengundang rekan-rekan pers, masyarakat untuk hadir malam nanti pukul 23.00 WIB di Jalan Gajah Mada Pekanbaru dalam aksi acara “malam ikrar masyarakat” bersama Sat Lantas Polresta Pekanbaru.

Hal ini menurut Kompol Mustofa terkait dengan masalah genk motor di Pekanbaru Sat
Lantas Polresta Pekanbaru terpanggil untuk menyelamatkan anak bangsa “genk motor”
tersebut.

Sepekan terakhir, sudah beredar informasi ke masyarakat luas di Kota Pekanbaru
termasuk kepada para oknum pelajar yang bandel bahwa polisi akan mengadakan razia besar-besaran Sabtu malam nanti terhadap genk motor. Maka warga jangan sembarangan keluyuran malam karena bisa jadi korban salah tangkap aparat polisi, baik polisi yang berpakaian dinas maupun polisi berpakaian preman. Berhembus juga issu sejumlah agen-agen intelijen khusus yang datangnya entah dari mana juga merapat ke Kota Pekanbaru untuk meringkus para pemuda genk motor yang berperilaku menyimpang.(snc/rpc)

Ribuan Massa Hadiri Kampanye Andar-Isnan

Padang Sidempuan (Segmennews.com)– Ribuan massa pendukung Calon Walikota dan Wakil Walikota Padang Sidempuan (PsP) Tapanuli Selatan Andar Amin Harahap S,STP,MSi dan Muhammad Isnandar Nasution S,Sos (Andar Isnan) padati lapangan bola, SMAN 3 Psp, Jumat (5/10).

Andar-Isnan menyampaikan komitmennya dalam membangun Padang Sidimpuan  kedepan, dirinya bertekat lebih mementigkan kesejahteraan masyarakat. Dia juga menyebutkan akan bekerja dengan ihklas dan jujur semata-mata demi kepentingan masyarakat, apabila mereka dipercaya memimpin Padang Sidimpuan 5 tahun kedepan.

Andar Amin Harahap Pasangan nomor urut 3 pada Pilkada tanggal 18 Oktober 2012 mendatang ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Padang Sidimpuan dengan kerendahan hati, kesantunan dan kepeduliannya kepada masyarakat, sehingga Andar mudah berbaur dengan masyarakat dan mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat.

Kepeduliannya terhadap masyarakat juga terlihat pada komitmennya untuk membangun PsP kedepan, dirinya berjanji 100 persen gajinya sebagai Walikota nanti akan di sumbangkan untuk masyarakat fakir miskin.

“Kami tidak menebar janji tapi akan kami buktikan, bahwa kami tidak akan pernah melupakan rakyat, yakinlah, saudara-saudaraku semua, sebab kepentingan masyarakat adalah tujuan kami, namun kami juga manusia, jika ada kesilafan nanti mohon kami ingatkan,” urainya.

Selain itu, calon wakil walikota Muhammad Isnandar Nasution menambahkan bahwa jika mereka terpilih nantinya, akan mengupayakan segala kebijakan pemerintah akan di rembukkan dengan masyarakat, dengan kekompakan itu, maka akan tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dan Pemerintah. Keharmonisan hubungan akan memperlancar segala program pemerintah.

“Sebelum mengambil kebijakan, kami akan menyampaikannya kepada masyarakat. Agar Program pemerintah bisa menyentuh langsung kerakyat, dan program akan berjalan dengan baik,” janji pria yang sudah mengabdikan diri sebagai anggota DPRD PsP dua periode ini.

Pernyataan pasangan nomor urut 3 ini disambut gembira oleh masyarakat, menurut salah satu dari masyarakat yang hadir, Yusup mengaku terharu dengan segala program dan kebijakan pasangan Cawako Psp ini.

“Mudah-mudahan mereka terpilih, khusunya saya akan memilihnya, sebab mereka layak memangku jabatan Walikota dan Walikota yang akan membawa PsP lebih baik kedepan, dan mereka juga lebih mementingkan kesejahteraan masyarakat ketimbang jabatan,” pujinya.

Kampanye Andar-Amin bertambah meriah dengan penampilan artis ibukota asal PsP, Rahman Kdi. Penampilannya mampu memukau masyarakat, sebab Rahman juga tidak asing lagi bagi mereka, yang sudah menjadi bagian dari masyarakat PsP.

Kegembiraan masyarakat semakin larut, dengan turutnya Andar-Isnan berjoget diatas panggung. Begitu juga dengan mesyarakat mulai berjoget khas mereka.

“Saya juga Putra Daerah PsP, Saya tahu betul karakter Bang Andar dan Isnan. Mereka layak memimpin PsP kedepan dan peduli rakyat. Mari kita coblos nomor 3, jangan terpengaruh dengan iming-imingan, mari kita solidkan diri,  jangan lupa pilih Andar-Amin,” ajak Rahman. (Snc/man)

Novel, korban memanasnya hubungan KPK & Polri?

Jakarta (segmennews.com)-Sejak ditangkapnya penyidik KPK, Novel Baswedan oleh pihak kepolisian, masyarakatpun mulai bertanya-tanya siapa sebenarnya Novel?.
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto menyebut Novel Baswedan sebagai salah satu penyidik terbaik yang dimiliki KPK. Sepupu Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan itu bertugas menjadi penyidik KPK sekitar enam tahun. Novel menjadi Wakil Ketua Satgas kasus simulator yang ditangani KPK. Novel pernah bersitegang dengan kepolisian saat menggeledah Kantor Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri.
Novel juga menjadi penyidik dalam kasus Muhammad Nazaruddin. Ia bahkan sempat dipanggil ke pengadilan atas permintaan pengacara Nazaruddin yang merasa keberatan dengan proses penyidikan di KPK. Novel datang memberi kesaksian di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor Jakarta). Novel pula yang menyidik kasus suap cek pelawat yang berhasil menjebloskan Nunun Nurbaeti, istri Mantan Wakapolri Adang Daradjatun, ke penjara.
Meski bukan termasuk dalam 20 nama penyidik yang ditarik Polri, Novel adalah salah seorang penyidik yang menyatakan memilih menjadi pegawai KPK. Niat itu sudah dikabulkan KPK. “Dia sudah menjadi pegawai tetap KPK. Seharusnya semua institusi lain menghormati. Pak Novel adalah pegawai negeri yang statusnya sebagai pegawai KPK,” katanya.
Sejak menangani kasus simulator, berbagai ancaman kerap diterima Novel dan keluarganya. Kakak kandungnya, Taufik Baswedan mengatakan, satu jam setelah berita penangkapan Novel, ia sempat berkomunikasi lewat BBM, lalu terputus. Novel sempat menelepon. Ia hanya bilang, “Jaga ibu.”
Sepak terjang Novel yang gigih bekerja membongkar kasus korupsi di bawah naungan KPK, diduga kuat mengapa ia menjadi korban kriminalisasi. Novel yang terakhir berpangkat Kompol itu berani membongkar korupsi di institusi Polri. Untuk kali pertama, seorang perwira aktif diproses hukum karena kasus korupsi.
Bambang mengatakan, KPK melakukan semua upaya untuk melindungi Novel dan keluarganya. Demikian pula dengan penyidik KPK yang lain. KPK membentuk tim hukum dan menyediakan pengacara untuk melindungi penyidiknya.

Dalam kesempatan lain, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad yakin Novel Baswedan tidak melakukan kesalahan. Keyakinan yang ia sampaikan ini terkait fakta hasil penelitian yang ia lakukan. “Novel tidak melakukan seperti yang dituduhkan. Dengan begitu, saya siap mem-back-up agar tidak dilakukan kriminalisasi,” ujar Abraham seusai dialog dengan ulama dan tokoh agama di Kota Semarang, Sabtu, 6 Oktober 2012.

Ia menilai, upaya pelemahan dengan cara kriminalisasi terhadap KPK ini dilakukan sistematis terorganisasi, termasuk puncaknya pada upaya penjemputan secara paksa di kantor yang ia pimpin, Jumat malam kemarin. Upaya kriminalisasi ini dinilai sebagai teror psikis berupa tekanan terkait kasus yang ditangani para penyidik.
“Saat itu, situasinya sudah tak kondusif dan sangat mencekam bagi penyidik idealis yang selama ini dari polisi. Mereka punya hati nurani dan ingin tetap bergabung dengan KPK,” ujar Abraham.

Dia mengaku sudah melaporkan insiden ini ke Presiden lewat Menteri Sekretaris Negara serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Namun, ia belum mendapatkan jawaban dari Presiden.

Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. menilai upaya melemahkan KPK ini terjadi sejak lama. Ia membeberkan upaya kriminalisasi sejak zaman Antasari ditahan.
“Saat itu, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan untuk membubarkan (KPK). Dengan alasan kolektif kolegial, karena Antasari ditahan,” ujar Mahfud pada kesempatan sama.
Upaya melemahkan KPK juga terjadi pada kriminalisasi atas Bibit (Bibit Samad Rianto) dan Chandra (Chandra M. Hamzah), yang kemudian ada upaya mengajukan gugatan pembubaran ke Mahkamah Konstitusi. Ia menilai persoalan korupsi itu diwarnai saling sandera, yang saat ini masih diarahkan ke KPK. (snc/prc)