KPK Gelar Konferensi Pers, Tanggapi Memanasnya Hubungan KPK & Polri
“Hari ini memang direncanakan Ketua KPK akan bertemu dengan Kapolri membahas situasi yang menurut publik tidak kondusif,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP di Gedung KPK, Jakarta Selatan.
KPK dan Polri sama-sama menangani kasus pengadaan simulator surat izin mengemudi yang merugikan negara puluhan miliar rupiah. Gesekan mulai terjadi, ketika KPK menggeledah kantor Korps Lalu Lintas Polri di daerah Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Mantan Kepala Korlantas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo ditetapkan sebagai tersangka.
Keduanya sama-sama menangani kasus tersebut. Namun, yang lebih dulu, membidik Djoko Susilo adalah KPK. Sedangkan Polri menyeret bawahan Djoko. Situasi makin memanas saat KPK memeriksa Djoko sebagai tersangka pada Jumat (5/10/2012).
Usai memeriksa Djoko, puluhan polisi mengepung Gedung KPK, berupaya menjemput paksa salah satu penyidik KPK, bernama Novel Baswedan.
Novel dikabarkan terjerat kasus penganiayaan terhadap salah satu tersangka kasus, ketika bertugas di Bengkulu pada 2004. Kasus tersebut dinyatakan selesai, Novel tidak bersalah. Entah kenapa Novel dikait-kaitkan dengan kasus yang sudah delapan tahun berlalu dan telah selesai.
Kapolri tidak mengetahui upaya penjemputan paksa Novel. Informasi ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto yang memerintahkan penarikan provos dari Gedung KPK ketika pengepungan terjadi.
“Saya cek ke Kapolri apa benar ada, dengan tujuan itu. Kapolri kaget dan tidak ada perintah untuk itu. Dan saat itu juga saya minta ditarik. Kapolri memang mengecek dulu,” kata Djoko Suyanto saat itu
Belum dapat dipastikan di mana tempat pertemuan antara Ketua KPK dan Kapolri hari ini. Akan tetapi sudah ada dua tempat alternatif, salah satunya di Gedung KPK. “Ini yang belum clear,” kata Johan.
“LP (laporan) Novel dibuat 1 Oktober 2012. Ini tanggal berapa? 7 Oktober 2012, kejadian 8 tahun silam LP-nya dibikin 1 Oktober 2012,” ucap Johan dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/10/2012) malam.
Disebutkan, LP yang disampaikan oleh Polda Bengkulu ke KPK pada Jumat (5/10/2012) malal lalu, tercatat bernomor 1285/11/2012/SPKT. Dimana saat dibawa ke KPK untuk menjemput Novel, diketahui bahwa LP tersebut belum mendapatkan ijin dari pengadilan, sehingga KPK menolaknya. Karena belum mendapatkan ijin atau penetapan dari pengadilan.
Temuan fakta lain, lanjut Johan, diketahui tidak ada/dilakukan uji balistik dalam kasus penembakan terhadap pencuri sarang burung walet di Bengkulu. Termasuk pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang diduga terlibat dalam kasus itu.
“Kami temukan juga, tidak ada uji balistik dan pemeriksaan terhadap saksi yang diduga terlibat dalam kasus itu,” jelas Johan.
“Sebelum Jumat (5/10/2012), belum satupun surat panggilan yang dialamatkan kepada novel untuk diperiksa atas kasus 8 tahun silam,” tambahnya.
Korban Tak Tahu Siapa Penembak
Bengkulu (Segmennews.com)-Upaya Polda Bengkulu menangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kompol Novel Baswedan terkait kasus penganiayaan hingga mengakibatkan kematian menggelinding menjadi isu nasional. Kasus ini mempertajam gesekan antara Polri dan KPK. Sejauh mana keterlibatan Novel Baswedan dalam kasus penembakan 6 tersangka pencurian sarang burung walet tahun 2004 lalu? Benarkah Novel ikut menembak atau hanya memberi perintah? Dari 6 tersangka kasus pencurian tersebut, pihak yang melaporkan kembali ke Polda Bengkulu, ternyata bukan keluarga korban Mulyan Johani alias Aan yang tewas. Tetapi 2 korban yang mengalami luka tembak yakni Erwansyah Siregar (luka tembak di kaki kiri) dan Dedi Mulyadi (luka tembak kaki kanan). Tiga tersangka lainnya adalah Rizal Sinurat, Ali dan Doni, semuanya ditembak di bagian kaki. Menurut pengakuan Erwansyah Siregar dan Dedi Mulyadi melalui penasihat hukum (PH), Yuliswan, SH, MH, pada saat kejadian penembakan tersebut, suasana Pantai Panjang Ujung sangat gelap. Sehingga, keduanya tidak bisa memastikan siapa yang melakukan penembakan, apakah Kasat Serse Novel Baswedan ataukah anak buahnya. Menurut keterangannya tadi malam, Yuliswan membenarkan dirinya selaku PH Erwansyah Siregar atau Iwan Siregar mengangkat kembali kasus tahun 2004 tersebut. Namun versi Yuliswan, dia bukan melapor ulang ke Polda Bengkulu, melainkan mengirim surat kepada Kapolri untuk menuntut keadilan atas dua kliennya. Permintaan keadilan itu tertera melalui surat tertanggal 21 September 2012 lalu dengan nomor surat 079/SP/A-YOR/09/2012. Dalam surat tersebut Yuliswan, SH, MH selaku kuasa hukum Iwan Siregar dan Dedi Nuryadi menyampaikan kepada Kapolri yakni kronologis peristiwa penembakan terhadap 6 tersangka pencurian burung walet yang terjadi di Pantai Panjang Ujung Kota Bengkulu. Yuliswan menuturkan, sekira Rabu malam Kamis bulan Februari tahun 2004 kliennya ditangkap dengan dugaan melanggar pasal 363 KUHPidana oleh aparat Kepolisian Polres Bengkulu, yang kala itu dibawah pimpinan Kasat Reskrim Iptu Novel. Tempat Kejadian Perkara (TKP) kliennya ditangkap yakni di Jalan S. Parman tepatnya di gedung walet milik Aliang. Kemudian kliennya dibawa ke Reskrim Polres Bengkulu. Sesampai di Polres, kliennya dipukuli oleh anggota Reskrim. Lalu kliennya bersama empat rekannya dibawa keluar gedung Polres menuju Pantai Panjang. Setibanya di Pantai Panjang, kliennya bersama empat rekannya ditembak. Saat ditembak, Erwansyah alias Iwan Siregar ditembak di kaki kiri tepatnya di belakang lutut dan diduga pelurunya masih berada di dalam kaki kliennya tersebut. Selanjutnya Dedi Nuryadi ditembak di kaki kanan di belakang lutut. “Awalnya dibuat surat permintaan keadilan tersebut, Iwan cerita kepada saya bahwa kakinya yang bekas tembakan tersebut sering merasa nyeri. Rasa nyeri tersebut sudah ia rasakan semenjak 2008 lalu. Dengan rasa nyeri tersebut, kemungkinan masih terdapat peluru dikaki kirinya tersebut. Setelah surat disampaikan, pihak Polda Bengkulu menanggapinya,” ujar Yuliswan. Tanggapan dari pihak Polda Bengkulu tersebut diwujudkan dengan melakukan operasi terhadap kaki Erwansyah Siregar. Hasil operasi memang ditemukan ada peluru yang masih bersarang di kaki. “Setelah dioperasi, klien saya sudah tidak ada keluhan lagi. Itu hanya surat permintaan keadilan bukan laporan,” ungkap Yuliswan. Dalam suratnya tersebut, Yuliswan mempertegas, pada saat dilakukan penembakan, kliennya sudah dalam keadaan babak belur dan tidak ada tenaganya lagi. Selain itu, kliennya dalam keadaan kurang sadar. Usai ditembak di Pantai Panjang, kliennya dibawa kembali ke Polres. Setiba di Polres, kliennya beserta empat tersangka lainnya difoto. Usai difoto itulah, salah satu teman kliennya yakni Mulyan Johani alias Aan terjatuh dan meninggal dunia. Siapa polisi yang menembak klien Anda? Versi Yuliswan, menurut pengakuan Erwansyah Siregar dan Dedy Mulyadi, kliennya tersebut tidak mengetahui persis siapa yang melakukan penembakan. Karena saat itu suasana malam gelap. “Menurut pengakuan klien saya, mereka dibawa bersama keempat rekannya ke pantai tersebut dalam kondisi setengah sadar. Saat kejadian (eksekusi penembakan), klien saya mengaku sama sekali tidak mengetahui siapa yang melakukannya. Selain itu, titik (lokasi) di mana dilakukannya penembakan, kliennya saya juga tidak mengetahui,” ujar Yuliswan. Dari mana klien Anda tahu bahwa lokasi penembakan itu di pantai? “Saat saya tanya, mereka tahu di pantai karena merasakan adanya pasir di sekitarnya,” tukas Yuliswan. Dari kronologis kejadian tersebut, Yuliswan meminta Kapolri untuk dapat memproses hukum aparat yang bertanggungjawab atas penganiayaan terhadap kliennya tersebut. Karena menurutnya, tindakan tersebut merupakan indisipliner dan melanggar pasal 351 ayat 2 dan 3 KUHPidana tentang penganiayaan. Selain ditujukan kepada Kapolri, surat yang dibuat Yuliswan juga ditembuskan kepada Presiden RI, Ketua DPR RI, Komnas HAM RI, Kabareskrim Mabes Polri, Kabid Propam Mabes Polri, Ketua Kompolnas serta Kapolda Bengkulu. “Dalam surat saya tersebut sifatnya global, tidak ada yang menyebutkan bahwa yang melakukan penembakan tersebut Novel. Namun di situ saya tulis tolong proses aparat yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Selanjutnya kalau masih ada sanksi ya silakan, karena Negara kita ini adalah Negara hukum. Selain itu, jangan ada anggapan bahwa saya ada intimidasi dari Polri. Mohon saya jangan dipojokkan, saya haramkan kalau ada Rp 1 pun saya dibayar,” pungkas Yuliswan. (snc/jpnn) |
DPRD Pelalawan Adopsi Kesuksesan RSUD Padang Panjang
Pelalawan (Segmennews.com)- Anggota DPRD Pelalawan kagum dengan sumbang PAD RSUD Padang Panjang Sumatra Barat (Sumbar) bagi pemerintahannya. Pada saat berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padang Panjang Sumatera Barat Kamis kemarin (4/10), anggota Komisi A DPRD Pelalawan terkesan dengan rumah sakit tersebut. Pasalnya, rumah sakit milik pemerintah daerah itu telah membuktikan keberhasilannya karena selain sebagai penyumbang PAD terbesar, RSUD Padang Panjang itu juga menjadi rumah sakit kebanggaan masyarakat setempat.
“Kami dari Komisi A DPRD Pelalawan baru saja sampai ke RSUD Padang Panjang. Saat kunjungan itu, kami ditemani langsung oleh Direkturnya dan diajak melihat-lihat fasilitas di rumah sakit itu. Ternyata walaupun RSUD Padang Panjang milik pemerintah, kualitas pelayanannya sangat maksimal tidak seperti di RSUD kita, maka dari itu kita minta agar RSUD Selasih bisa mencontoh RSUD Padang Panjang,” terang Wakil Ketua Komisi A DPRD Pelalawan Markarius Anwar pada wartawan via telpon selulernya, Jum’at (5/10).
Markarius menjelaskan bahwa hal yang menonjol dan sangat berbeda dengan RSUD lainnya sehingga anggota komisi A DPRD Pelalawan ingin melihat bagaimana sistem pengelolaan RSUD Padang Panjang itu, karena diketahui saat ini RSUD Padang Panjang adalah satu-satunya RSUD penyumbang PAD terbesar se-Indonesia yakni mencapai 14,6 Milyar pertahun.
“Setelah kami tanya-tanya dan selidiki sendiri, ternyata kenapa RSUD tersebut bisa menyumbang PAD begitu besar karena sistem manajemen di RSUD tersebut yang pertama kali diutamakan adalah pelayanan yang maksimal terhadap pasien. Selain pelayanan medis yang diberikan oleh pihak RSUD, pihak rumah sakit juga memenuhi kebutuhan peralatan medis sebagai penunjang dan melengkapi semua dokter specialis sehingga pasien yang berobat di RSUD itu selain dapat berobat murah juga mendapatkan pelayanan yang maksimal dan tidak perlu berobat ke Rumah sakit swasta,” bebernya.
Pelayanan yang maksimal itu, sambungnya, dikarenakan rumah sakit tersebut semuanya diperbaiki, baik pelayanan dan fasilitasnya selama lebih kurang 5 tahun. Baru setelah itu, mereka mendapatkan hasilnya dengan berhasil menyumbangkan PAD sebesar 14,6 Milyar per tahun.
“Jadi saya sarankan kalau bisa RSUD Selasih jika dapat studi banding, kemari saja enggak usah jauh-jauh karena RSUD Padang Panjang cukup bagus untuk dicontoh,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, dari hasil perbincangan anggota komisi A DPRD Pelalawan dengan pihak managemen RSUD menjelaskan bahwa saat pembangunan RSUD mulai dilaksanakan, mereka mendapat back-up penuh oleh kepala daerahnya sehingga semua bangunan yang dikerjakan memang benar-benar berkualitas dan cukup bagus hasilnya.
“Padahal anggarannya dengan anggaran pembangunan RSUD Selasih itu hampir sama tapi kenapa RSUD kita tak bisa semaju RSUD Padang Panjang. Namun yang jelas yang perlu dicontoh dari sini ini adalah bahwa selain pelayanan, juga ada yang lebih penting lagi yaitu tanggung jawab penuh seorang Direktur RSUD untuk jangan sungkan menegur bawahannya atau dokter specialis yang melakukan kesalahan, selain itu juga ketransparanan masalah keuangan juga perlu dilakukan,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Drs Sozifao Hia yang juga anggota Komisi A DPRD Pelalawan yang ikut dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, bahwa RSUD Padang Panjang tahun 2009 sudah mampu menyumbangkan PAD sebesar 1,6 Milyar dan sekarang sudah mencapai 14,6 Milyar.
“Dan itu bisa terwujud memang karena pihak RSUD mampu menciptakan Image yang baik di masyarakat, selain pengelolaannya tepat sasaran sehingga mampu menjadikan RSUD tersebut sebagai Rumah sakit kebanggan masyarakat setempat. Lihat saja bentuk bangunannya yang seperti hotel berbintang dan biayanya sangat terjangkau yakni cuma 250 ribu per malamnya di ruangan VIP. Karena itu, banyak sekali pejabat dan bahkan Bupati juga berobat di RSUD itu, dan ini harus bisa di ciptakan di Pelalawan,” pungkasnya. (rz)
Marwan: Pelalawan Ekspo Bawa Kemajuan Daerah
![]() |
| Wabup Pelalawan Drs Marwan Ibrahim memberikan piala bergilir festival tari dan lagu ke Ketua Panitia Pelalawan Expo Ir Zuhelmi |
Pelalawan (Segmennews.com)- Dalam usianya yang ke 13 pada tanggal 12 Oktober nanti, sampai saat ini Pemkab Pelalawan terus melakukan pembenahan diri dari berbagai sektor demi peningkatan serta pemerataan ekonomi kerakyatan di daerah ini. Hal ini agar tercapai kesejahteraan masyarakat di daerah ini sehingga masyarakat bisa jadi tuan di daerahnya sendiri.
“Untuk itu, berbagai upaya yang dilakukan Pemda Pelalawan saat ini diantaranya terwujudnya pembangunan jaringan listrik di Pelalawan serta akan dibangunnya kawasan industri Tekhnopolitan yang nantinya akan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat Pelalawan,” terang Wakil Bupati Pelalawan Drs H Marwan Ibrahim saat membuka kegiatan Pelalawan Ekspo bersempena HUT Pelalawan ke 13 di lapangan sepakbola Pangkalan Kerinci, Sabtu malam (6/10).
Marwan menerangkan bahwa serangkaian kegiatan dalam menyambut HUT Pelalawan ke 13 ini adalah selain menampilkan bazaar atau stand dari produk unggulan pemerintahan dan kecamatan serta Dewan Kesenian Kabupaten Pelalawan juga menampilkan produk unggulan dari perusahaan. Baik itu perusahaan kertas, perbankan, perusahaan otomotif, BUMN dan ada juga produk unggulandari kabupaten lain yakni dari Kabupaten Rokan Hilir.
“Dan rencananya selama pagelaran Pelalawan Expo ini, pemerintah daerah juga sudah menyiapkan sejumlah pertandingan tari dan lagu melayu yang diikuti oleh kabupaten tetangga. Selain itu juga panitia juga sudah menyiapkan kegiatan lain diantaranya Takblig Akbar yang akan mendatangkan Fikri Zainudin serta pementasan artis ternama dari Jakarta,” katanya.
Karena itu, sambungnya, dirinya berharap dengan digelarnya Pelalawan Ekspo ini maka nantinya bisa memberikan nilai positif bagi kemajuan daerah. Pasalnya, dengan adanya Pelalawan Ekspo ini maka nantinya Kabupaten Pelalawan bisa dilirik oleh Investor dari luar yang berniat ingin menanamkan modalnya di Pelalawan.
“Apalagi setelah tahu bahwa Kabupaten Pelalawan saat ini banyak memiliki potensi yang perlu dikembangkan diantaranya program Tekhnopolitan yang akan dominan melakukan usaha lewat industri hilirnya serta pengembangan kawasan taman Nasional Teso nilo serta gelombang bono,” ujarnya.
Usai memberikan sambutan, Wabup didampingi sejumlah pejabat dan unsur muspida memukul gendang sebagai tanda dibukanya pelaksanaan Pelalawan Ekspo. Kemudian setelah istri Wabup Pelalawan Hj Asnidar Marwan memotong pita pembukaan stand, rombongan melanjutkan dengan melakukan peninjauan di stand-stand pameran.
Pada saat meninjau stand, Wabup beserta rombongan berkesempatan mendatangi Stand Dewan Kesenian Kabupaten Pelalawan (DKP). Di sana, Wabup bersama rombongan melihat hasil produk unggulan yang dipajangkan oleh DKP serta sejumlah produk kerajinan tangan yang saat ini sudah mulai ditinggalkan namun perlu di angkat lagi agar tidak punah.
Beberapa kerajinan yang ditampilkan oleh DKP pada Pelalawan Expo itu diantaranya yakni seni anyaman dari daun pandan yang menghasilkan peralatan rumah tangga berupa tas jinjing, tikar, tudung saji dan banyak lagi. Selain itu juga ada ukiran berupa miniature kapal dan sampan asli masyarakat Pelalawan dan juga miniature rumah masyarakat pelalawan jaman dulu.
Sementara itu, Ketua DKP Pelalawan, Herman Maskar, mengaku dirinya sangat bangga dengan memamerkan produk tersebut ketimbang produk modern.
Pasalnya, produk-produk yang dipamerkan tersebut adalah produk asli Pelalawan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah agar pengrajin produk asli Pelalawan tidak punah. Dengan kata lain, dipamerkannya produk tersebut pada acara Pelalawan Expo agar para pemuda jaman sekarang masih mau belajar untuk berkreasi dan membuat produk itu.
“Apa yang kita pamerkan pada Pelalawan Expo itu karena kita sangat berharap para pemuda-pemudi sekarang masih mau belajar untuk membuat anyaman atau ukiran sehingga hasil kerajinan tangan seperti itu tidak punah. Soalnya, sangat disayangkan sekali kalau hasil kerajinan ini punah akibat tergerus kemajuan jaman dan tidak ada lagi yang berminat belajar untuk membuat kerajinan anyaman atau ukiran seperti yang kita pajangkan,” tutupnya. (rz)
Besok, Pimpinan KPK Bertemu Kapolri
![]() |
| Kpc |
JAKARTA (Segmennews.com)— Unsur pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijadwalkan bertemu dengan Kepala Kepolisian RI (Polri), pada Senin (8/10/2012). Kedua pimpinan itu akan membahas polemik yang terjadi di antara kedua institusi.
Setelah pertemuan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memberi pernyataan kepada masyarakat. Hal ini disampaikan Menteri Sekretariat Negara Sudi Silalahi dalam jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Minggu (7/10/2012).
Menurut Sudi, pertemuan pimpinan KPK dengan kepolisian awalnya akan digelar hari ini. Namun, rencana itu batal karena sejumlah unsur pimpinan KPK sedang berada di luar kota.
“Hari ini, Presiden mendapat laporan ternyata memang pertemuan antara Kapolri dan pimpinan KPK belum bisa dilakukan. Mereka sudah berjanji pertemuan KPK dengan Polri dilaksanakan besok,” katanya.
Sudi menambahkan, Presiden SBY sebenarnya tidak tinggal diam menyaksikan kisruh antara KPK dan Polri yang berujung pada upaya penangkapan seorang penyidik KPK oleh Kepolisian Daerah Bengkulu.
Presiden, masih menurut Sudi, telah mendengar permintaan masyarakat agar mengambil alih masalah ini. Namun, Presiden SBY ingin memberi kesempatan kepada KPK dan Polri untuk mengatasi masalahnya sendiri sesuai undang-undang dan nota kesepahaman (MoU) yang sudah disepakati keduanya.
“Namun, berhubung perkembangan situasi sudah tidak baik, dengan banyak yang memanipulasi, Presiden akan segera mengambi alih dan menyampaikan penjelasan kepada rakyat segera setelah pertemuan KPK-Polri dilaksanakan,” ungkap Sudi.
Pernyataan Presiden ini akan dikeluarkan pada Senin atau Selasa (9/10/2012) siang.
Seperti diketahui, sejak KPK mengintensifkan penanganan kasus dugaan korupsi pengadaan alat simulasi mengemudi di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, hubungan KPK dan Polri menjadi renggang.
Saat KPK memutuskan untuk menangani kasus Korlantas, Polri ikut mengusut kasus yang sama dengan tersangka yang juga sama.
Perbedaannya, polisi tidak menjadikan mantan Kepala Korlantas Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka seperti yang dilakukan KPK.
Belum lagi tuntas masalah perebutan kasus itu, kepolisian tiba-tiba menarik 20 penyidiknya yang tengah bertugas di KPK.
Ketegangan hubungan KPK-Polri semakin meruncing setelah pada Jumat (5/10/2012) malam anggota Polda Bengkulu mendatangi Gedung KPK untuk menangkap penyidik KPK, Novel Baswedan.
Menurut kepolisian, Novel diduga melakukan penganiayaan berat saat bertugas di Kepolisian Resor Bengkulu pada 2004. Atas upaya penangkapan ini, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menganggapnya sebagai bentuk kriminalisasi anggota KPK. (snc/Kompas.com)
Kontras dan Korban Kekerasan Polisi Dukung KPK
![]() |
| photo (kpc) |
JAKARTA (Segmennews.com)- Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) bersama para korban tindak kekerasan polisi mendatangi Gedung KPK di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka datang untuk memberikan dukungan kepada KPK terkait upaya polisi menangkap Novel Baswedan yang diangkap merupakan tindak kriminalisasi.
M Daud, Staf Divisi Pemantauan dan Inpunitas Kontras mengatakan, upaya penangkapan Novel oleh aparat Polda Bengkulu di KPK adalah upaya kriminalisasi oleh kepolisian. “Tujuan kami adalah mendukung KPK. Karena ini merupakan tindak kriminalisasi. Polisi mau menegakkan hukum tapi malah melawan hukum itu sendiri,” kata Daud kepada wartawan di Gedung KPK, Minggu (7/10/2012).
Upaya penangkapan Novel menurutnya merupakan bentuk sikap arogansi kepolisian. Upaya tersebut dikatakanya sebagai tindak sistematis untuk melemahkan penyidikan korupsi oleh KPK. “Kami lihat banyak kasus-kasus lain yang tidak dibongkar dan mengendap oleh polisi, tetapi justru saudara Novel yang menyidik kasus korupsi mau ditangkap dengan tuduhan kasus yang sudah delapan tahun,” ujarnya.
Dia mengatakan, Polri tidak transparan pada kasus yang terjadi pada Novel. Pasalnya, kasus di Bengkulu diungkap setelah Novel berstatus penyidik KPK yang menangani dugaan korupsi di tubuh Korlantas. “Tidak ada alasan, kalau memang terdapat kasus (pada Novel), kenapa dia malah direkomendasikan jadi penyidik KPK,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kompol Novel Baswedan dituduh terlibat kasus penganiayaan berat saat bertugas di Bengkulu tahun 2004. Ia adalah penyidik yang tengah memeriksa tersangka kasus dugaan korupsi simulator ujian surat izin mengemudi (SIM), Inspektur Jenderal Djoko Susilo. (snc/kompas.com)
Menanggapi Penangkapan Novel : Keluarga Korban Penembakan Minta Tak Dimanfaatkan
Bengkulu (segmennews.com)-Pihak Keluarga korban Mulyan Johani (28) yang tewas karena diduga ditembak anggota Sat Reskrim Polres Bengkulu yang dipimpin Novel Baswedan, mengaku tidak pernah sekalipun melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
Wakil pihak keluarga Johani, Antony Besmar (41), menyatakan bahwa pihaknya tak pernah mendesak agar kasus ini diusut tuntas.
Antony mengatakan, keluarganya justru mengharapkan pihak kepolisian tidak memanfaatkan kematian adiknya untuk kepentingan apapun. Meski demikian Antony mengakui, pihak keluarga tak keberatan jika kasus tersebut diungkap oleh pihak kepolisian.
“Jika kasus tersebut diusut kami bersedia. Tapi kami minta, keluarga kami jangan dimanfaatkan hanya untuk menjatuhkan Novel, ingat itu,” ujar Antony yang mengaku saat kejadian penembakan dirinya sedang tidak berada di Bengkulu.
Diungkapkannya, pada saat kejadian tersebut pihak keluarga telah menggelar rapat dan memutuskan menyerahkan semuanya ke pihak kepolisian. Namun hingga saat ini, pengusutan kasus tersebut belum terungkap dan masih mengambang.
“Kenapa baru sekarang kasus ini dibuka kembali? Ini juga menjadi pertanyaan kami, walaupun kami tetap menginginkan kasus ini tetap diusut” kata Antony yang menyebutkan bahwa Johani merupakan atlet binaraga dan pelatih fitnes.
Dipaparkannya, kronologis kejadian saat penangkapan adik Johani memang tak pernah jelas. “Keluar dari rumah rumah fisiknya sangat sehat, jam sebelas malam kami dikabari (Johani) meninggal dunia karena ditembak. Putusan dari Propam kami juga tidak mengetahuinya, ” ungkap Antony. (snc/jpnn)








